Kamis, 14 Januari 2010

BAHKAN PADA DIRIKU AKU TAK BERKUASA….





Manusia diciptakan tidak seperti robot…. sejak di taman Eden, kita memiliki kehendak bebas memilih… namun apakah dengan demikian kita serta merta dapat mejadi tuan atas diri sendiri…? Mungkin bisa… tetapi tidak dalam segala hal… pada batas tertentu kita bahkan tidak bisa menjadi tuan atas diri kita sendiri…
Jangan pernah lupa bahwa kita adalah ciptaan dan tidak pernah dapat menjadi sama dengan Pencipta.

Pelajaran berharga ini, didapat ketika mengalami sakit beberapa hari yang lalu…. Tugas yang banyak membuatku berharap banyak, tubuh ini mampu bekerjasama dengan baik. Namun di saat ku merasa cukup sehat untuk terserang sakit… saat itu juga ku bangun pagi-pagi dengan badan yang meriang, panas… jatuh sakit… Ternyata kita tidak dapat berkuasa terhadap diri kita sendiri….


Keesokan harinya, ku terbangun dengan badan yang mulai segar… sorenya bahkan bisa mengikuti natal rayon di gerejaku…. Sebelum menuju ke tempat pelaksanaan ibadah natal, kami menjemput salah seorang majelis yang tengah terserang struk… sepanjang perjalanan dia bercerita bahwa, dia tidak pernah menyangka, suatu pagi ia akan bangun dengan sebagian badan yang tidak dapat digerakan lagi…. Ternyata kita tidak dapat berkuasa terhadap diri kita sendiri….


Hari ini…. kami mendengar… berita kematian dari keluarga si Majelis yang terserang struk. Ternyata bukan si bapak yang meninggal tetapi istrinya yang beberapa hari lalu masih terlihat sehat. Beberapa hari yang lalu, si ibu masih telaten membantu bapak untuk berjalan dan mengikuti acara natal tetapi ternyata.. Tuhan memanggil pulang sang ibu terlebih dahulu… semua kaget karena tidak menyangka bahwa sang Ibu dipanggil terlebih dahulu…. Ternyata kita tidak dapat berkuasa terhadap diri kita sendiri….


Banyak hal indah, prestasi dan kesuksesan yang kita miliki… atau mungkin keindahan tubuh yang kita jaga dengan baik…. Kita boleh berbangga dengan itu, tetapi jangan sampai kita terlalu angkuh untuk selalu membangga-banggakannya…. Karena ternyata kita tidak dapat berkuasa terhadap diri kita sendiri…. Semuanya keangkungan dapat berubah menjadi ratapan dalam hitungan detik….


Banyak kesulitan… dan tantangan serta harapan dalam hidup kita…. Seringkali membuat kita khawatir dan cemas…. Kita boleh merasa ragu dan takut tetapi jangan sampai ketakutan itu membuat hidup kita tertekan… Karena ternyata kita tidak dapat berkuasa terhadap diri kita sendiri…. Semua ratapan dapat berubah menjadi senyuman dalam hitungan detik…


Hidup yang Allah anugrahkan ini.. adalah hidup yang utuh… susah… sedih… tangis… tawa…. Semuanya disediakan bagi kita… namun jangan pernah kita memilih untuk terlena dalam kesuksesan ataupun merasa nyaman dalam kegagalan…. Apalagi memilih untuk melangkah sendiri…. Karena kita tidak dapat berkuasa terhadap diri kita sendiri….


Pada situasi ini kita dapat mengerti apa yang di katakan Ayub: Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil... Terpujilah Tuhan.....

Ayub sadar, ternyata kita tidak berkuasa terhadap diri kita sendiri…. jangan pernah lepaskan genggaman kita pada NYA...

Sabtu, 02 Januari 2010

Hargai setiap kegagalan dan keberhasilan… karena hidup ini utuh…

Ini adalah reflesksi dari perjalanan ke air terjun di katumiri...

Menikmati keindahan air terjun, paling indah, bila kita melihatnya dari dasar air terjun, sambil melihat ke atas. Melihat betapa tingginya air terjun, di tengah-tengah suasana hijau menyegarkan, yang dihadirkan oleh hutan alam. Untuk mendapatkan sudut pandang ini, mau tidak mau kita harus berjuang untuk turun dari ketinggian menuju titik terendah dari air terjun.

Keindahan air terjun menjadi semakin berharga ketika, kami harus berjalan kembali ke atas. Harus berjuang melewati jalan yang bergunung-gunung, ditemani hujan dan semakin berat karena jalan yang becek. Perjuangan yang melelahkan itu membuat keindahan air terjun yang terlihat di dasar bukit menjadi sangat berharga.

Sambil berjalan, ku merenungkan…. Ternyata hidup juga seperti ini… hidup itu berputar.. ada saat kita berada di atas dan ada saat kita berada di bawah. Kita pernah merasakan gagal dan pernah merasakan kesuksesan. Keduanya saling melengkapi dan memberi makna.

Kita menghargai keberhasilan karena kita pernah merasakan sakitnya dan bagaimana beratnya perjuangan untuk bangkit dari kegagalan. Kita menghargai kegagalan sebab melaluinya kita mendapat pelajaran dan kekuatan untuk mencapai keberhasilan. Bukankah seringkali pelajaran hidup yang paling berharga didapat ketika kita berada dalam titik kegagalan ?

Terlalu sering kita hanya mau bersyukur karena keberhasilan dan merasa bahwa kegagalan adalah pengalaman yang harus dilupakan. Dunia mengajarkan kita hanya untuk menghargai orang yang berhasil. Ternyata hidup yang diciptakan Sang Pencipta adalah kehidupan yang utuh.

IA tidak hanya membiarkan kita merasakan kesuksesan tetapi IA juga membiarkan kita merasakan kegagalan. Dengan menjalani kehidupan yang utuh ini kita akan menghargai setiap tapak perjalanan hidup kita… entah itu ketika gagal, di saat perjuangan untuk bangkit dari kegagalan maupun saat kita mencapai kesuksesan.

Ternyata hidup terlalu indah untuk dijalani dengan keluhan. Herold Kushner mengingatkan kita bahwa kegagalan tidak serta membuat kita menjadi pecundang. Dan seorang pecundang sekalipun, akan menjadi seorang pemenang ketika ia berani bangkit dari kegagalan.

Jangan pernah takut untuk gagal, namun jangan pernah nyaman untuk tinggal dalam kegagalan sebab kegagalan dapat menjadi pijakan untuk berjuang menggapai keberhasilan.

IA adalah pencipta yang menyertai kita dalam setiap tapak hidup kita… saat gagal maupun berhasil. IA tau kita adalah ciptaan yang tidak sempurna dan tidak pernah memaksa kita menjadi sempurna dalam ketidaksempurnaan kita. IA hanya menginginkan kita berbuat yang terbaik….