Waktu yang paling dirindukan adalah waktu dimana dapat berbagi cerita dengan mama…
Pagi ini, salah satu cerita yang paling ku sukai adalah cerita tentang salah seorang tetangga kami, ketika papa masih bertugas di Jemaat Imanuel- Oepura, salah satu jemaat dari GMIT.
Sebut saja nama ibu ini adalah “ma ci”…. Itu sapaan yang biasa kami berikan kepadanya… seperti sebagian besar jemaat GMIT, mereka hidup dalam kesederhanaan… rumah sederhana tetapi selalu bersih dan rapi…. Di tata dengan bunga-bunga yang ditanam sendiri…. dalam pot-pot bunga sederhana buatan tangan sendiri… dengan menggunakan bahan daur ulang dari kaleng-kaleng cat… rumah itu selalu memberikan gambaran kesederhanaan… kesegaran dan kekeluargaan…. Rasa nyaman selalu dirasakan ketika bermain di tempat itu…
Gambaran rumah ini… jauh berbeda dari gambaran pergumulan hidup yang dijalani ma ci…. Ia seorang single parent yang ditinggal pergi oleh suaminya… enam orang anak harus dibesarkan oleh dirinya yang tidak memiliki pekerjaan dan keahlian tetap…
Tertatih… tatih…. setiap hari ia membesarkan dan menjaga serta menyekolahkan anaknya… dilakukan dengan rasa syukur dan iman bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dia… harapan selalu ada, bahwa Tuhan selalu ada dalam setiap tangisan dan tawanya….
Setelah puluhan tahun ia membesarkan anak-anaknya, hingga hampir seluruh anak-anaknya telah menikah… sang bapak yang telah lama pergi meninggalkan dirinya dan pergumulan hidupnya… akhirnya kembali… namun cerita tidak berakhir disini…. Suaminya kembali tidak lagi dalam keadaan normal… kembali karena telah terserang struk… kaki dan mulutnya tidak dapat berfungsi dengan normal lagi…
Sama seperti ketabahan dan kegigihan menjalani hidupnya sendiri… ma ci menerima dan merawat suaminya…. Apa adanya…. Tulus… tidak sungkan-sungkan ia berjuang sekuat tenaga merawat, mengobati dan melayani suaminya… hingga sekarang.. perlahan demi perlahan suaminya dapat berjalan dan berbicara lagi…. Ia teguh bergumul… tanpa sadar ia telah mendefinisikan apa itu kasih ya.. melupakan… memaafkan… mengampuni… melayani tanpa pamrih...