“Jemaat
tanpa
klasis
dan
sinode
bisa
berjalan
tetapi
klasis
dan
sinode
tidak
bisa
berjalan
tanpa
jemaat”
Kalimat ini dilontarkan salah seorang teman untuk menunjukkan pentingnya jemaat dalam struktur gereja. Tata gereja GMIT 2011 (tager 2011) dalam tata dasarnya mengatur bahwa kedudukan jemaat adalah sebagai basis penyelenggaraan hidup dan pelayanan GMIT. Kamus Bahasa Indonesia mengartikan kata basis dengan kata dasar. Jemaat sebagai persekutuan anggota-anggota GMIT pada tempat dan lingkungan sosial budaya tertentu adalah dasar atau fondasi dari pelayanan dalam GMIT. Apa makna kata jemaat sebagai basis ?
Misi
Gereja dan Keterlibatan Sukarela
Gereja hadir
karena, oleh, dan untuk Allah Trinitas. Gereja dipanggil oleh Bapa
melalui Firman dan Roh Kudus. Panggilan ini adalah panggilan agar
gereja menjadi alat bagi Firman dan Roh untuk bersaksi tentang
Kerajaan Allah (Document: The Nature and Mission Of the Church).
Dengan kata lain misi adalah hakikat gereja. Gereja adalah gereja
yang misioner. Gereja tanpa misi adalah gereja yang menyangkali
hakikatnya.
Hakikat
sebagai gereja yang misioner dalam pelaksanaanya tidak mudah. Mady
Thung, seorang sosiolog menjelaskan bahwa gereja adalah sebuah
lembaga yang unik. Gereja adalah lembaga normative namun
keanggotaannya sukarela (Thung,
Precarius Ornganitation).
Normative sebab gereja adalah lembaga dengan norma-norma yang
mengikat anggotanya sementara disisi lain keanggotaan gereja adalah
keanggotaan yang sukarela. Moderenisasi membuat masalah agama atau
kepercayaan adalah masalah individu yang tidak dapat begitu saja
diintervensi oleh orang lain. Setiap orang kristen punya hak untuk
memilih keanggotaan gerejanya. Pada masa sekarang sudah bukan hal
aneh bila dalam satu rumah, anggota keluarganya memiliki keanggotaan
gereja yang berbeda.
Tantangan
bagi gereja adalah bagaimana mengajak anggota yang sukarela ini untuk
terlibat menjadi saksi kerajaan Allah dalam seluruh kehidupannya.
Gereja misioner atau gereja yang menjadi saksi kerajaan Allah tidak
dapat tercapai tanpa keterlibatan anggotanya. Gereja bertugas untuk
mempersiapkan setiap anggotanya agar dalam seluruh kehidupannya ia
dimampukan menjadi saksi kerajaan Allah.
Kata
kunci dalam menjawab tantangan gereja antara misi dan keterlibatan
sukarela adalah kebutuhan. Pelayanan yang menyentuh kebutuhan jemaat
akan menjadi pengikat yang menghindarkan anggota gereja melepaskan
keanggotaanya. Namun pelayanan yang menyentuh kebutuhan ini, harus
juga memampukan anggota gereja untuk menjadi saksi kerajaan Allah.
Setiap anggota tidak hanya menerima tetapi juga menjadi subyek dari
pelayanan.
Seorang
pejabat pemerintahan dalam pekerjaanya seringkali dihadapkan dengan
tuntutan untuk mengambil keputusan yang “abu-abu”. Ajaran dan
program kerja harus mampu menyentuh kebutuhan pejabat ini sehingga ia
dapat mengambil keputusan yang taat kepada Allah. Dengan demikian
pejabat ini menjadi saksi kerajaan Allah. Seorang janda yang tidak
memiliki kerja membutuhkan perhatian gereja. Perhatian kepada
kebutuhan janda ini sekaligus menjadi kekuatan yang memampukan
dirinya untuk memberikan kekuatan bagi para janda yang lain. Seorang
tukang ojek yang setiap harinya menghabiskan waktunya dijalanan
membutuhkan pelayanan yang memampukan dirinya memaknai pekerjaannya
sebagai bagian dari kesaksian bagi kerajaan Allah.
Tantangan
sebagai gereja misioner yang keanggotaanya sukarela adalah tantangan
bagaimana mengelola ajaran dan program yang menyentuh kebutuhan
anggota namun juga memampukan anggota menjadi subjek dari pelayanan.
Pada titik inilah jemaat sebagai persekutuan anggota-anggota
memainkan peran penting. Anggota gereja perlu dikelompokan dalam
tempat dan lingkungan sosial budaya tertentu sehingga mempermudah
pengenalan kebutuhan yang dihadapi. Pengenalan kebutuhan yang baik
akan menghasilkan ajaran dan program pelayanan yang sesuai dengan
kebutuhan atau pergumulan hidup anggota.
Jemaat
dikatakan sebagai basis sebab dalam jemaatlah pengenalan kebutuhan
anggota-anggota gereja dapat berjalan. Dalam jemaat pula kebutuhan
anggota gereja dilayani serta dalam jemaat, anggota gereja
dipersiapkan untuk menjadi subjek pelayanan. Ajaran dan program
pelayanan adalah hal penunjang yang sangat penting.
Pemahaman
Kembali Kata Awam
Jemaat
sebagai persekutuan anggota-anggota GMIT memiliki peran penting
sebagai basis pelayanan sebab misi gereja dapat tercapai bila
anggota-anggotanya terlibat aktif. Keterlibatan aktif jemaat ini
perlu dipersiapkan dengan baik dalam jemaat. Peran aktif anggota
jemaat menjadi pendorong untuk memahami kembali makna kata awam.
Tulisan Andar Ismail dalam buku Awam dan Pendeta menjadi sumber yang
baik dalam memahami ulang kata awam.
Kata
awam
seringkali
diucapkan
untuk
membedakan
antara
kelompok
yang
tidak
mengerti
teologi
dan
kelompok
yang
mengerti
teologi.
Anggota
gereja
yang
tidak
mengerti
teologi
dikelompokan
sebagai
awam
yang
seringkali
keberadaannya
dianggap
sebagai
kelompok
kelas
dua
dalam
jemaat
padahal
kelompok
yang
dianggap
awam
ini
memiliki
jumlah
jumlah
dalam
gereja.
Menurut
Andar
Ismail
pemahaman
kata
awam
sebagai
kelompok
yang
tidak
mengerti
teologi
terjadi
karena
pada
akhir
abad
ke
1, penggunaan
kata
awam
dalam
gereja
dipengaruhi
oleh
budaya
Yunani-Romawi.
Dalam
budaya
Yunani-Romawi,
kata
Yunani
laos
sebagai
akar
dari
kata
lay
dan
awam
digunakan
untuk
menunjuk
rakyat
biasa
yang
tidak
mengerti
sistem
pemerintahan.
Sebagai
rakyat
biasa,
laos
tidak
memiliki
kuasa.
Pengaruh
ini
mengaburkan
pemahaman
kata
awam
menurut
Alkitab.
Alkitab
Septuaginta
menggunakan
kata
laos
untuk
menyebut
Umat
Allah
seperti
dalam
Ulangan
7:6. Kata
laos
digunakan
sebagai
lawan
dari
kata
ethne
yaitu
bangsa
atau
orang
yang
tidak
mengenal
Allah.
Kisah
Rasul
18:10 adalah
contoh
penggunaan
kata
laos
dalam
PB.
Terlihat
bahwa
kata
awam
berarti
adalah
Umat
Allah
yang
secara
eksplisit
berarti
Umat
Allah
yang
sehari-hari
hidup
dan
bekerja
dalam
lingkungan
masyarakat.
Dari
antara
Umat
Allah
inilah
yang
kemudia
sebagian
dari
antara
mereka
diteguhkan
sebagai
pelayan
yang
bekerja
secara
penuh
dalam
lingkungan
gereja.
Jemaat Sebagai
Basis
Anggota-anggota
gereja yang seringkali kita sebut sebagai kaum awam dalah Umat Allah
yang menjadi ujung tombak dari misi gereja. Jemaat sebagai
persekutuan anggota-anggota GMIT memainkan peran penting dalam
persiapan anggota gereja sebagai unjung tombak pelayanan. Ajaran dan
program kerja dari jemaat harus menyentuh kehidupan anggotanya dan
memampukan mereka juga menjadi subyek dari pelayanan. Bila GMIT
mengabaikan kedudukan jemaat sebagai basis dan terus mengembangkan
pola pelayanan hirarkhis atas-bawah, maka hanya menunggu waktu untuk
melihat jemaat menjadi basis yang rapuh. Ibarat sebuah rumah, bila
fondasi dan dasar sudah rapuh maka keruntuhan hanya masalah waktu.