Rabu, 01 Februari 2012

KLASIS: Sebuah Kekuatan



 
 KLASIS: Sebuah Kekuatan


Satu siang, saat gerimis, saya dan dua orang senior yang sedang menjalani masa vikariat duduk bersantai sambil berbagi cerita di teras rumah. Sudah cukup lama kami sibuk dengan urusan dan pelayanan masing-masing sehingga tidak dapat bertemu untuk bercerita. Saat itu kami memulai pertemuan dengan bercerita mengenai suka dan duka mereka selama menjalani masa vikariat. Mungkin tema ini sengaja mereka angkat agar saya tertarik juga menjadi seorang vikaris setelah menyelesaikan studi teologi saya.
         Bercerita dengan keduanya adalah hal yang selalu saya rindukan. Dari cerita-cerita yang ada, kami selalu mendapatkan nilai-nilai kehidupan yang membuat kami dapat melihat dengan lebih jernih kehidupan kami masing-masing. Keduanya bukanlah tipe vikaris yang menjalani masa vikariatnya sebagai sebuah formalitas. Mereka memahami benar bahwa masa vikariat adalah saat-saat anugrah Tuhan menjawab kerinduan dan pergumulan hati mereka.
       Rutinitas ibadah yang melelahkan, kesediaan untuk mendengar cerita-cerita hidup jemaat, kesediaan untuk berbagi waktu dan cerita-cerita dengan mentor yang sangat mengerti mereka, sudah menyita seluruh waktu yang mereka miliki. Bukan hanya itu mereka harus tetap secara bijaksana membagi waktu mereka dengan keluarga sebab keduanya telah berumah tangga. Semua aktifitas itu seringkali membuat mereka lelah, lelah secara fisik maupun psikis. Seorang senior berkata “tidak jarang serasa ingin berteriak, sebab seolah tidak punya waktu untuk diri sendiri.” Mereka berdua mengakui bahwa pertemuan wadah berbagi, bertukar cerita, dan menguatkan sangat mereka butuhkan. Kebutuhan ini sangat masuk akal sebab masa vikariat adalah masa peralihan dari seorang mahasiswa untuk menjadi pendeta.
          Dari cerita-cerita ini, kami kemudian mulai merunung mengenai beban ganda para pendeta perempuan. Mereka dituntut menjadi bijaksana. Pola pikir tradisional yang menempatkan perempuan sebagai pengatur rumah tangga  membutuhkan waktu dan perhatian yang besar, sementara disisi lain tuntutan pelayanan menuntut waktu dan perhatian yang tidak sedikit. Mereka seolah tidak memiliki waktu untuk dirinya. Seluruh waktu digunakan bagi pelayanan gereja dan mengatur rumah tangga. Hal ini bukan perkara yang mudah.
         Wadah tempat berbagi dan saling menguatkan adalah sebuah kebutuhan para pendeta. Kenyataan ini sebenarnya juga menunjukan salah satu kekuatan klasis bagi para pendeta. Klasis sebagai wadah persekutuan seharusnya juga menjadi tempat bagi para pendeta untuk berbagi dan saling menguatkan. Tidak mungkin seorang pendeta dapat memikul sendiri beban pelayannya, ia membutuhkan orang lain. Teman sesama pendeta dapat lebih mudah memahami pergumulannya.
         Satu hal yang membuat saya tersenyum adalah ketika kami membicarakan mengenai kekuatan klasis sebagai wadah persekutuan yang saling menguatkan antarpendeta, salah seorang senior berkata “mana ada seperti itu, klasis yang selama ini saya pahami adalah penjaga 10% setoran ke sinode.” Tanpa disadari kenyataan ini adalah akibat dari mengerucutnya struktur klasis karena kaburnya pemahaman klasis sebagai persekutuan  tetapi juga unit pembantu sinode. Dalam prakteknya klasis menjadi lebih identik  dengan sebutan KPWK adalah juga staf sinode.        
         Namun di sisi lain tidak hanya Aturan Klasis Tager 1999 yang memiliki andil hilangnya kekuatan klasis. Solidaritas antarpendeta pun harus dilihat kembali. Pertemuan-pertemuan klasis bukanlah ajang untuk bertanding model baju, tas, dll. Pertemuan klasis juga bukanlah ajang untuk sosialisasi agenda sinode melalui para ketua klasis atau mengamankan 10% setoran ke sinode. Klasis lebih dari pada itu. Pertemuan klasis adalah juga kekuatan karena para pelayan dapat berbagi cerita dan saling menguatkan. Tempat saling berbagi sehingga jangan lagi ada seorang pendeta yang bergumul sendiri bersama jemaatnya untuk pembangunan gedung gereja, sementara jemaat-jemaat lain dalam satu klasis seolah tidak peduli dan nyaman dengan gedung ibadah megah yang telah dimiliki. Dalam persekutuan, berbagi, dan saling menguatkan ada kekuatan. Dan inilah salah satu kekuatan dari klasis sebagai salah satu wadah persekutuan di GMIT.
       Menyadari kekuatan persekutuan ini kami bertiga pun berjanji bahwa akan lebih sering untuk bertemu dan berbagai cerita, sekalipun hanya di teras rumah. Persekutuan yang sederhana ini memampukan kami menjalani hari-hari pelayanan dan aktifitas kami dengan selalu bersyukur, karena kami merasa kami tidak berjuang sendiri. Selalu ada sesama untuk berbagi. Saya teringat sebuah kata “bukan masalah air mata atau mata air, tetapi bagaimana caranya bagi-bagi air.”