Minggu, 21 Februari 2010

Belajar dari tungku api & Daniel 1: 1-21.

Perkembangan zaman dapat dilihat dari berkembangnya perabotan dapur salah satunya terlihat jelas dari perubahan yang terjadi dari Tungku Api, Komfor Minyak dan Komfor Gas. Kehadiran Tungku api semakin tergusur, dan terpinggirkan dengan hadirnya komfor minyak tanah dan komfor gas. Ribet, kotor bahkan kampungan menjadi alasan yang dilebelkan pada tungku api. Penggunaan tunggku api tidak lagi sepopuler dulu pada jamannya.

Memang, harus diakui, perkembangan zaman mendahulukan kecepatan dari kelambatan, memilih sesuatu yang simple dari pada yang ribet. Tapi dalam catatakan kehidupan kita, tidak dapat dipungkiri bahwa makanan yang dimasak dengan tungku api dapat memberikan AROMA makanan yang jauh lebih khas. Tungku api dapat memberikan RASA yang unik pada makanan. Dalam keterdesakannya tunggku api mengajarkan kita bahwa semua yang kuno belum tentu lebih buruk, ada hal-hal yang tidak mampu digantikan oleh peralatan yang lebih populer. Semua punya kelemahan dan kelebihan.

Bukan sebuah kesalahan bila cara hidup kita, disesuaikan dengan zaman yang berubah ini. Bahkan sebuah keharusan bagi kita untuk menyesuaikan cara hidup kita dengan perubahan zaman. Yang menjadi masalah adalah ketika kita hendak menghalalkan segala cara, sehingga dengan mudah kita mencapai apa yang kita inginkan. Atas nama perkembangan dunia dan tuntutan zaman, orang seringkali lebih memilih “jalan pintas“. Hal ini adalah salah satu pesan yang dapat kita ambil dari cerita Daniel 1: 1-21.

Ketika raja Nebukadnezar, memerintahkan agar mengumpulkan beberapa para pemuda Israel untuk mendapatkan pendidikan menganai bahasa dan tulisan Kasdim, Daniel, Hananya, Misael dan Azarya masuk dalam daftar pemuda yang dikumpulkan. Raja menjamu mereka dengan makanan dan minuman yang sama dengan apa yang dimakan dan diminum oleh raja. Namun sekalipun keadaan memungkinkan mereka untuk merasakan apa yang dirasa “populer“ pada masa itu, Daniel dan teman-temannya memilih untuk tidak menajiskan diri mereka (ay.8). Tentunya pilihan Daniel dan teman-teman adalah sebuah pilihan yang tidak populer bagi lingkungan hidup mereka saat itu.

Merasakan apalagi bisa menyantap makanan raja yang merupakan makanan terbaik, tentunya merupakan kerinduan dari setiap rakyat. Makanan dan minuman santapan raja tentunya merupakan santapan terbaik. Apalagi bila makanan dan minuman tersebut diberikan untuk mendukung otak dan tubuh mereka selama masa pendidikan sehingga dapat menjadi yang terbaik. Namun bagi Daniel dan teman-teman, apalah gunanya meraih keberhasilan bila cara yang ditempuh membuat diri mereka menjadi najis. Kesetiaan kepada Allah adalah jauh lebih panting sebab Allahlah sumber pengetahuan yang membuat mereka berhasil bahkan menjadi yang terbaik.

Di tengah perkembangan jaman yang semakin moderen ini banyak “Jalan Pintas“ yang ditawarkan. Takut dan setia kepada Allah seolah menjadi sebuah hal “kuno“ yang tidak lagi populer. Kalau bisa sogok, untuk apa berusaha. Kalau bisa bayar, untuk apa belajar. Kalau bisa korupsi, untuk apa berlama-lama kerja hanya untuk kaya. Kalau bisa sukses lebih cepat, untuk apa takut Tuhan.

Dalam berusaha mencapai cita-cita kita, entah di dunia pendidikan, pekerjaan di kantor, maupun dalam dunia usaha lain, tentunya tidak lepas dari tantangan dan kesulitan tetapi juga kesuksesan. Masa-masa perjuangan inilah, seringkali kita ditawarkan dengan berbagai “jalan pintas“ yang terlihat seperti sesuatu yang populer dan sesuai dengan tuntutan jaman. Pada saat inilah kita dapat belajar dari Daniel dan kawan-kawan, bahwa sumber kehidupan kita adalah Allah.

Jangan takut melawan arus. Jangan takut dibilang kuno. Belajarlah dari tungku api, sekalipun tidak lagi populer tetapi aroma dan rasa yang dihasilkan olehnya, tidak tergantikan. Dengan mempertahankan ketaatan kita kepada Allah dalam kehidupan ini, kita akan tetap merasakan, “AROMA“ dan “RASA“ kehidupan yang tidak dapat diberikan oleh semua “Jalan Pintas“.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar