Kata
jemaat dan gereja dalam penggunaannya seringkali
tertukar. Dalam kehidupan sehari-hari sering terdengar orang bertanya
“gereja kamu di mana?” pertanyaan ini kemudian dijawab dengan
“gereja saya Ebenhaezer-Oeba” namun sering juga dijawab “saya
jemaat Ebenhaezer-Oeba.” Contoh kecil ini menjadi pendorong untuk
memahami kembali kata jemaat.
Definisi
Jemaat dalam Tager GMIT 2010
Tager
GMIT 2010 menjelaskan bahwa kata jemaat dimaknai sebagai persekutuan
orang-orang percaya kepada Yesus Kristus yang berdomisili di satu
wilayah geografis tertentu dalam rentang waktu yang terukur jelas di
mana firman diberitakan, sakramen dilayankan, dan dipimpin oleh
Majelis Jemaat.(Naskah ekesiologis, 19-20)
Penjelasan
selanjutnya mengatakan bahwa kata gereja dipakai untuk menamai
persekutuan jemaat-jemaat yang disebut GMIT. Setiap jemaat adalah
Tubuh Kristus yang utuh namun kegerejaannya terwujud dalam relasi
yang universal dengan jemaat-jemaat yang lain. Karena alasan inilah kata GMIT selalu ada didepan nama setiap jemaat contohnya
Jemaat GMIT Ebenhaezer-Oeba. Definisi jemaat menurut Tager GMIT 2010
menggambarkan bahwa jemaat terbentuk karena adanya kebutuhan
akan adanya persekutuan bersama dalam suatu konteks tertentu.
Arti
kata Jemaat
Jemaat
berakar pada kata Yunani, eklesia. TDNT menjelaskan bahwa kata
eklesia tidak dapat begitu saja dicari dalam etimologi
Yunani sebab
kata ini berakar dari bahasa Ibrani . Kata eklesia hanya merupakan
kata Yunani yang digunakan LXX untuk
menerjemahkan kata qahal yang
berarti perkumpulan atau orang-orang yang
berkumpul (TDNT, 530). dalam PL kata qahal terutama digunakan untuk
merujuk pada umat
Israel yang berkumpul dan dipimpin oleh Allah. Sementara PB
menggunakan kata eklesia untuk memaknai beberapa hal
antara lain
gereja lokal, gereja yang universal, sinagoge sebagai tempat
berkumpul, pertemuan untuk beribadat, dan sebuah komunitas dalam hal
ini
gereja (The Dictionary of the Bible, 2000, 274). Penelusuran
arti kata eklesia menjelaskan bahwa kata jemaat selalu diperuntukan
bagi perkumpulan atau persekutuan tidak pernah digunakan dalam makna
individu.
Jemaat:
Bersekutu dalam konteks kehidupan
PL
menceritakan bahwa Allah mengumpulkan satu persatu UmatNya/qahal
untuk menjadi umat Allah/qahal YHWH. Pemanggilan ini tidak hanya agar
manusia dapat merasakan karya keselamatan Allah tetapi juga agar Umat
Allah dapat meneruskan karya keselamatan Allah. Merasakan karya
keselamatan Allah tidak dapat terjadi jika manusia hidup seorang
diri. Setiap manusia membutuhkan orang lain untuk merasakan karya
keselamatan Allah. Namun pada titik yang sama manusia harus dapat
menjadi sesama bagi orang lain sehingga orang lain dapat merasakan
karya keselamatan Allah. Hidup dalam persekutuan adalah hakikat
manusia sebab ia hadir karena karya keselamatan Allah melalui sesama
dan untuk mewujudkan karya keselamatan Allah bagi sesama.
Ketika
YHWH/Allah memanggil dan mengumpulkan umatNya, pemanggilan ini tidak
serta merta melepaskan umatNya dari identitas mereka. Allah memanggil
Israel dengan seluruh konteks kehidupan budaya, kebiasaan, dan
karakternya (Ridderbos, Paul An Outline of His Theology, 1975, 327).
Karya keselamatan Allah dirasakan dalam seluruh konteks kehidupan
yang ada. Karya keselamatan Allah bukanlah hal yang asing tetapi
hadir dari pergumulan setiap hari. Umat Allah bersekutu, menyembah,
dan melayani Allah dengan seluruh konteks kehidupan yang dimilikinya.
Namun
pemanggilan sebagai Umat Allah juga mengharuskan kehidupan mereka
harus memancarkan identitas sebagai Umat Allah. Konteks kehidupan,
budaya, dan kebiasaan harus sejalan dengan identitas sebagai Umat
Allah. Dengan kata lain konteks kehidupan, budaya, dan kebiasaan yang
tidak menyatakan identitas sebagai Umat Allah harus diperbaharui.
PB
jelas meceritakan bahwa Yesus hidup dan melayani dalam konteks
kehidupan pada masa itu. Namun juga PB juga menceritakan bagaimana
Yesus juga mengubah kebisaan dan budaya yang ada. Ketika budaya
mengatakan bahwa perempuan adalah manusia kelas dua Yesus justru
berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Yesus masuk dalam konteks
kehidupan pada masanya tetapi juga mampu memperbaharuinya.
Pelayanan
Yang Sadar Konteks
Definisi
jemaat dalam Tager GMIT dan penjelasan mengenai makna kata jemaat
mengantarkan kita untuk memahami bahwa jemaat terbentuk karena adanya
kebutuhan akan persekutuan bersama dalam suatu konteks tertentu.
Dengan terbentuknya jemaat karya keselamatan Allah tidak menjadi
sebuah karya yang asing tetapi nyata dalam konteks kehidupan
sehari-hari.
Pemahaman
ini menegaskan bahwa pelayanan jemaat adalah pelayanan yang sadar
konteks. Bagaimana memahami Allah dalam tangisan, tawa, dan
pergumulan setiap hari dari anggota gereja. Hal ini menjadikan
pemetaan kekayaan dan kebutuhan jemaat menjadi hal yang
takterhindarkan. Karya keselamatan Allah adalah kehadiran Allah dalam
tawa mereka yang kelaparan, gagal panen dan berjuang dengan
kemiskinan. Ajaran dan program jemaat GMIT hendaknya menghadirkan
Allah sebagai Allah dari Timor, Sabu, Alor, dan Rote. Allah bukan
Allah yang jauh tetapi hadir dalam penyertaannya melalui jagung, gula
sabu, kacang ijo, dll.
Pelayanan
yang sadar konteks juga berarti pelayanan yang peka terhadap budaya
dan kebiasaan yang tidak sejalan dengan indentitas jemaat sebagai
Umat Allah. Budaya patriakhi, feodalisme, dan hirarkhi yang ada
dihampir semua suku harus mendapat pembaharuan. Karya keselamatan
Allah hanya dapat terjadi dalam persekutuan sebab manusia hidup
saling membutuhkan. Hal ini menjelaskan bahwa tidak ada satu
manusiapun yang lebih tinggi dari yang lain sebab kita saling
membutuhkan. Allah mengumpulkan UmatNya satu persatu karena itu
setiap Umat sangat berharga bagiNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar