Minggu, 15 Januari 2012

ATURAN GEREJA: Antara Ada dan Tiada


Aturan adalah bagian integral dalam kehidupan bergereja. Aturan dalam gereja berlaku bagi seluruh fase kehidupan anggota gereja. Sejak baptisan seorang anak kecil hingga penguburan seorang tua, semua ada aturannya. Namun tidak dapat dipungkiri aturan-aturan dalam gereja seringkali mendapat pengecualian-pengecualian. Keberadaannya bagaikan ada dan tiada.

Adanya Aturan
* Keteraturan dan ketertiban
Ketertiban dan kateraturan pelayanan sering dilihat sebagai faktor utama adanya aturan dalan gereja. Johanes Calvin mengutip I Korintus 14:40 “segala sesuatu harus berjalan dengan sopan dan teratur” untuk menegaskan pentingnya aturan dalam gereja (Calvin, Institutio, 2008). Dr. Abineno dalam bukunya garis-garis besar aturan gereja juga menempatkan hukum gereja sebagai alat atau wahana untuk terciptanya keteraturan pelayanan dalam gereja.
           Tidak dapat dibayangkan bagaimana mengatur gereja bila tanpa aturan. Pelayanan dan ajaran gereja dapat diatur sesuai dengan keinginan masing-masing anggota gereja. Bukan tidak mungkin hukum rimba, siapa yang kuat dan berkuasa dialah yang menentukan teologi, aturan, dan pola pelayanan dalam gereja.

*Menjaga Integritas gereja
Adanya aturan dalam gereja tidak hanya semata demi ketertiban dan keteraturan dalam gereja. Aturan dalam gereja adalah juga alat atau sarana untuk menjaga integritas gereja. Integritas adalah sejalannya identitas dan pelayanan gereja (Doing dan Being). Ajaran, program pelayanan, liturgi, aksesoris, seluruh lini kehidupan gereja harus sejalan dengan hakekatnya. Oleh karena aturan gereja adalah sarana untuk menjaga integritas gereja maka aturan gereja harus disusun di atas identitas gereja (eklesiologi).
         Pendasaran eklesiologi terhadap aturan gereja mencegah gereja dari sekedar “menambal sulam” aturan untuk kepentingan tertentu seperti perebutan kekuasaan organisasional dalam gereja. Manfaat lainnya adalah mencegah gereja dari sekedar mengcopy aturan positif, pemerintahan, dalam budaya, atau lembaga lainnya. Kerjasama dengan bidang lain selain teologi adalah sebuah keharusan tetapi harus sejalan dengan identitas gereja. 
 
Seolah Tiada
Pentingnya aturan gereja bagi penataan gereja yang sesuai dengan indentitas gereja tidak berarti nasib aturan gereja selalu diterima. Aturan dalam gereja terkadang seolah tiada. Seolah tiada sebab seringkali terlalu mudah untuk diabaikan. Alasan klasik dari pengabaian ini adalah tuntutan konteks pelayanan. Aturan-aturan yang diputuskan pada lingkup sinode seolah tidak sesuai dengan konteks lingkup jemaat padahal aturan-aturan tersebut datang dari jemaat dan diputuskan oleh perutusan jemaat.
          Namun terkadang kepentingan-kepentingan tertentulah yang berada dibelakang alasan-alasan pengabaian aturan gereja. Ketika aturan mengutungkan kepentingan tersebut aturan ditegakkan, namun ketika aturan tidak mengutungkan secara sadar diabaikan. Aturan gereja juga menjadi seolah tiada sebab standar ganda seringkali digunakan. Bagi orang-orang tertentu aturan ditegakkan dan bagi orang lain aturan dapat diabaikan atas nama kepentingan bersama.

Fleksibilitas Aturan Gereja
Fleksibilitas aturan gereja memang tidak terelakan sebab sebuah aturan adalah produk dari yang dihasilkan dalam waktu, pergumulan, dan konteks tertentu. Namun setiap aturan yang diputuskan dengan didasarkan pada eklesiologi sebenarnya adalah sebuah ungkapan iman. Gereja sebagai milik Allah Tritunggal yang hidup untuk menjalankan misi Allah Tritunggal dipanggil untuk menata dirinya sesuai dengan identitasnya ini. Aturan gereja harus selalu dibangun di atas pertanggungjawaban teologis. Oleh karena itu perubahan atau pelanggaran aturan gereja diperbolehkan sejauh memiliki pertanggungjawaban teologis. 
          Berbicara mengenai pertanggungjawaban teologis menjadi sulit untuk mengukurnya apalagi berhubungan dengan pertanggungjawaban teologis pribadi-pribadi. Kata dapat diputar sehingga sebuah pengabaian aturan gereja bisa diterima dengan landasan teologis padahal sebenarnya demi sebuah kepentingan tertentu. Pada titik ini integritas dan ketulusan pengguna serta pelaksana aturan gereja menjadi sangat penting. Aturan gereja tidak akan bernasib antara ada dan tiada kalau penggunanya berintegritas dan tulus serta mampu mempertanggungjawabkan secara teologis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar