Aturan
adalah bagian integral dalam kehidupan bergereja. Aturan dalam gereja
berlaku bagi seluruh fase kehidupan anggota gereja. Sejak baptisan
seorang anak kecil hingga penguburan seorang tua, semua ada
aturannya. Namun tidak dapat dipungkiri aturan-aturan dalam gereja
seringkali mendapat pengecualian-pengecualian. Keberadaannya bagaikan
ada dan tiada.
Adanya
Aturan
*
Keteraturan
dan ketertiban
Ketertiban
dan kateraturan pelayanan sering dilihat sebagai faktor utama adanya
aturan dalan gereja. Johanes Calvin mengutip I Korintus 14:40 “segala
sesuatu harus berjalan dengan sopan dan teratur” untuk menegaskan
pentingnya aturan dalam gereja (Calvin, Institutio, 2008). Dr.
Abineno dalam bukunya garis-garis besar aturan gereja juga
menempatkan hukum gereja sebagai alat atau wahana untuk terciptanya
keteraturan pelayanan dalam gereja.
Tidak
dapat dibayangkan bagaimana mengatur gereja bila tanpa aturan.
Pelayanan dan ajaran gereja dapat diatur sesuai dengan keinginan
masing-masing anggota gereja. Bukan tidak mungkin hukum rimba, siapa
yang kuat dan berkuasa dialah yang menentukan teologi, aturan, dan
pola pelayanan dalam gereja.
*Menjaga
Integritas gereja
Adanya aturan dalam gereja
tidak hanya semata demi ketertiban dan keteraturan dalam gereja.
Aturan dalam gereja adalah juga alat atau sarana untuk menjaga
integritas gereja. Integritas adalah sejalannya identitas dan
pelayanan gereja (Doing dan Being). Ajaran, program pelayanan,
liturgi, aksesoris, seluruh lini kehidupan gereja harus sejalan
dengan hakekatnya. Oleh karena aturan gereja adalah sarana untuk
menjaga integritas gereja maka aturan gereja harus disusun di atas
identitas gereja (eklesiologi).
Pendasaran eklesiologi
terhadap aturan gereja mencegah gereja dari sekedar “menambal
sulam” aturan untuk kepentingan tertentu seperti perebutan
kekuasaan organisasional dalam gereja. Manfaat lainnya adalah
mencegah gereja dari sekedar mengcopy aturan positif, pemerintahan,
dalam budaya, atau lembaga lainnya. Kerjasama dengan bidang lain
selain teologi adalah sebuah keharusan tetapi harus sejalan dengan
identitas gereja.
Seolah Tiada
Pentingnya aturan gereja bagi
penataan gereja yang sesuai dengan indentitas gereja tidak berarti
nasib aturan gereja selalu diterima. Aturan dalam gereja terkadang
seolah tiada. Seolah tiada sebab seringkali terlalu mudah untuk
diabaikan. Alasan klasik dari pengabaian ini adalah tuntutan konteks
pelayanan. Aturan-aturan yang diputuskan pada lingkup sinode seolah
tidak sesuai dengan konteks lingkup jemaat padahal aturan-aturan
tersebut datang dari jemaat dan diputuskan oleh perutusan jemaat.
Namun terkadang
kepentingan-kepentingan tertentulah yang berada dibelakang
alasan-alasan pengabaian aturan gereja. Ketika aturan mengutungkan
kepentingan tersebut aturan ditegakkan, namun ketika aturan tidak
mengutungkan secara sadar diabaikan. Aturan gereja juga menjadi
seolah tiada sebab standar ganda seringkali digunakan. Bagi
orang-orang tertentu aturan ditegakkan dan bagi orang lain aturan
dapat diabaikan atas nama kepentingan bersama.
Fleksibilitas Aturan Gereja
Fleksibilitas aturan gereja
memang tidak terelakan sebab sebuah aturan adalah produk dari yang
dihasilkan dalam waktu, pergumulan, dan konteks tertentu. Namun
setiap aturan yang diputuskan dengan didasarkan pada eklesiologi
sebenarnya adalah sebuah ungkapan iman. Gereja sebagai milik Allah
Tritunggal yang hidup untuk menjalankan misi Allah Tritunggal
dipanggil untuk menata dirinya sesuai dengan identitasnya ini. Aturan
gereja harus selalu dibangun di atas pertanggungjawaban teologis.
Oleh karena itu perubahan atau pelanggaran aturan gereja
diperbolehkan sejauh memiliki pertanggungjawaban teologis.
Berbicara mengenai
pertanggungjawaban teologis menjadi sulit untuk mengukurnya apalagi
berhubungan dengan pertanggungjawaban teologis pribadi-pribadi. Kata
dapat diputar sehingga sebuah pengabaian aturan gereja bisa diterima
dengan landasan teologis padahal sebenarnya demi sebuah kepentingan
tertentu. Pada titik ini integritas dan ketulusan pengguna serta
pelaksana aturan gereja menjadi sangat penting. Aturan gereja tidak
akan bernasib antara ada dan tiada kalau penggunanya berintegritas
dan tulus serta mampu mempertanggungjawabkan secara teologis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar