Tata gereja
GMIT tahun 2010 memberikan pemahaman yang lebih lengkap mengenai presbiterial
sinodal. Dalam naskah Eklesiologinya dengan tegas menggambarkan pemilihan
presbiterial sinodal sebagai asas GMIT tidak hanya di dasarkan pada pertimbangan
sejarah. Calvin bukanlah pemilik GMIT, ajarannya hanyalah salah satu kekayaan
teologi yang mempengaruhi GMIT. Sebagai gereja milik Allah Trinitas, GMIT
hendaknya dibangun dari pemahaman dirinya sebagai milik Allah yang dipanggil
untuk kembali melayani.
Presbiterial
sinodal dipilih oleh GMIT karena kesadaran bahwa dirinya adalah Imamat Am,
persekutuan yang dipanggil dan diutus kembali untuk melayani. Karena panggilan
inilah GMIT juga memahami dirinya sebagai gereja yang bersedia untuk terus
mereformasi dirinya termasuk belajar dari cerita para reformator yang melawan
hierarkhi dalam gereja.
Presibeterial
sinodal dalam GMIT terwujud dalam kepemimpinan yang komunal dan kesediaan
jemaat-jemaat untuk hidup bersama dalam persekutuan baik klasis, maupun sinode.
Dalam kepemimpinan komunal dan kesediaan hidup bersekutu perbedaan dihargai
sebagai kekayaan dan bukan sumber untuk saling mendominasi. Persekutuan yang
bersedia hidup dalam keberagaman dan keseteraan menjadi nilai-nilai utama dari
presbiterial sinodal. Nilai-nilai tersebut merupakan cerminan dari kehidupan
Sang Trinitas yang hidup dalam persekutuan yang menghargai perbedaan dan
kesetaraan.
Pemahaman
diri tersebut juga bertemu dengan kebutuhan konteks. Konteks pelayanan GMIT
adalah konteks yang plural dari segi budaya, kebiasaan, bahasa, umur, profesi
dan masih banyak perbedaan lainnya. Persekutuan yang hidup dalam keberagaman
dan kesetaraan merupakan persekutuan yang menghargai kenyataan plural yang ada
dalam konteks pelayanan GMIT namun tetap meletakan itu semua dalam “tarian” bersama
menuju Misi Allah Trinitas.
Kenyataan
konteks GMIT yang plural sekaligus menjadi petunjuk kompleksnya kebutuhan
pelayanan di GMIT. Presbiterial sinodal sebagai persekutuan yang hidup dalam
keberagaman dan kesetaraan hendaknya juga dipahami sebagai persekutuan dengan keberagaman
kebutuhan yang kompleks. Pembagian pelayanan kategorial berdasarkan umur
sudah tidak lagi dapat menjawab kebutuhan pelayanan.
Contoh kecil,
hampir dapat dipastikan sangat kurang gedung gereja di GMIT yang dengan sengaja
menyediakan jalan masuk untuk kursi roda bagi anggota gereja lansia dan disabilitas.
Gedung gereja cenderung dibangun dengan bertangga-tangga tanpa menyediakan
gagang pegangan bagi kaum lansia. Tidak adanya ruang menyusui bagi ibu-ibu dalam
gedung kebaktian, penggunaan gedung gereja cenderung untuk orang dewasa. Belum lagi
tidak adanya gereja yang mengalokasikan pelayanannya bagi korban dan penyintas
Tragedi ’65. Contoh-contoh kecil ini menjadi pertanda sejauh mana gereja peka
terhadap kebutuhan anggotanya. Masih banyak kebutuhan-kebutuhan anggota yang
terlupakan sekalipun sebagian besar kehidupan GMIT dibiayai oleh
anggota-anggotanya dan bukankah Sang Pemilik Gereja memandatkan untuk melayani
diriNya melalui pelayanan kepada anggota gereja
Dengan perkembangan
pemahaman presbiterial sinodal, persekutuan yang hidup dalam keberagaman dan
kesetaraan hendaknya menjadi harapan baru adanya kepekaan terhadap kompleksnya keberagaman kebutuhan pelayanan dalam gereja. Tidak ada anggota dengan kelas VIP
atau ekonomi, tidak ada anggota yang penting atau tidak penting sebab Allah
Trinitaslah yang mengumpulkan satu demi satu umatNya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar