Minggu, 21 Februari 2010

Persahabatan bagai Kedondong....

Ketika jenuh berhadapan dengan tugas-tugas yang tak pernah selesai… saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan menyegarkan pikiran ini dengan membuat sebuah tulisan lepas. Kebetulan ada seorang teman yang meminta menuliskan baginya sebuah cerita tentang persahabatan. Lebih tepatnya tentang dua sahabat lama… hm.. ternyata cukup susah…

Saat mencoba menyusun alur berpikir tulisan ini, tiba-tiba terdengar lagu, dengan lirik… “persahabatan bagai kepompong….. merubah ulat menjadi kupu-kupu….”. Seperti biasanya, saya selalu merubah lagu ini menjadi “persahabatan bagai ke dondong…..” hm.. bukan maksud hati menjelekkan lagu tersebut, tapi hanya ingin tersenyum ketika menyanyikan ubahan lagu tersebut…

Kedondong….. adalah salah satu jenis buah-buahan yang memiliki bentuk yang indah bila dilihat dari luar. Sedangkan isi dalam dari kedondong sendiri, terdiri dari dua bagian, daging buah dan serat… siapa yang memakan buah ini, harus mampu memisahkan daging dan seratnya….

Bukankah persahabatan seperti buah kedondong…?
Sangat indah ketika kita melihat dua orang atau beberapa orang hidup dengan saling bersahabat. Tidak sering banyak sekali symbol yang dibuat untuk mempererat persahabatan yang ada. Menggunakan gelang yang sama, baju dipesan bersama, janjian makan bersama… dan banyak lagi kegiatan lainnya. Sering kegiatan ini membuat orang yang ada disekitar melihat dengan tatapan iri…

Namun, mari melihat lebih cermat isi dari persahabatan tersebut…..
Hm.. ternyata tidak hanya ada “daging” yang baik untuk dimakan tetapi juga terdapat “serat” yang tidak menyenangkan.
  • Dalam persahabatan… tidak kita menemukan tempat untuk berbagi cerita tetapi juga tempat kita harus meluangkan waktu kita untuk mendengarkan cerita sekalipun, mungkin cerita itu tak penting bagi kita…..
  • Dalam persahabatan…. Tidak hanya menemukan tempat dimana kita diterima apa adanya tetapi juga kita harus menerima teman kita apa adanya. Sering kita kesal kepada sahabat karena perbuatannya tapi bukankah kita harus menerinya apa adanya…
  • Dengan persahabatan, kita tidak akan merasa sendiri dalam menjalani hidup ini. Ada orang yang bersama-sama berbagi tangisan dan tawa dengan kita. Namun harus kita akui bahwa seringkali kita kesal karena merasa bahwa sang sahabat terlalu mencampuri urusan pribadi… seolah kita tak punya waktu untuk diri sendiri…
  • Dalam persahabatan... kita akan menjadi orang yang berbangga ketika sahabat kita meraih prestasi.. tapi kita juga akan merasakan malu bila sang sahabat melakukan kesalahan....
  • Seorang sahabat adalah orang paling mengetahui kelebihan dan keinginan kita.. tetapi juga kelemahan dan kebencian kita… sahabat dapat membuat kita menjadi seorang yang paling berbahagia.. tapi dia juga dapat berubah menjadi orang yang paling kita benci.

Persahabatan itu utuh… seperti buah kedongdong… ada daging tapi juga ada serat… ada kebagiaan tetapi ada juga yang tidak menyenangkan…. tergantung bagaimana kita menyikapinya...

Bukankah keutuhan persahabtan juga yang diajarkan oleh amsal 17:17…. Ya… seorang sahabat menaruh kasih setiap saat… tidak hanya saat suka tetapi juga dalam kesukaran…

Belajar dari tungku api & Daniel 1: 1-21.

Perkembangan zaman dapat dilihat dari berkembangnya perabotan dapur salah satunya terlihat jelas dari perubahan yang terjadi dari Tungku Api, Komfor Minyak dan Komfor Gas. Kehadiran Tungku api semakin tergusur, dan terpinggirkan dengan hadirnya komfor minyak tanah dan komfor gas. Ribet, kotor bahkan kampungan menjadi alasan yang dilebelkan pada tungku api. Penggunaan tunggku api tidak lagi sepopuler dulu pada jamannya.

Memang, harus diakui, perkembangan zaman mendahulukan kecepatan dari kelambatan, memilih sesuatu yang simple dari pada yang ribet. Tapi dalam catatakan kehidupan kita, tidak dapat dipungkiri bahwa makanan yang dimasak dengan tungku api dapat memberikan AROMA makanan yang jauh lebih khas. Tungku api dapat memberikan RASA yang unik pada makanan. Dalam keterdesakannya tunggku api mengajarkan kita bahwa semua yang kuno belum tentu lebih buruk, ada hal-hal yang tidak mampu digantikan oleh peralatan yang lebih populer. Semua punya kelemahan dan kelebihan.

Bukan sebuah kesalahan bila cara hidup kita, disesuaikan dengan zaman yang berubah ini. Bahkan sebuah keharusan bagi kita untuk menyesuaikan cara hidup kita dengan perubahan zaman. Yang menjadi masalah adalah ketika kita hendak menghalalkan segala cara, sehingga dengan mudah kita mencapai apa yang kita inginkan. Atas nama perkembangan dunia dan tuntutan zaman, orang seringkali lebih memilih “jalan pintas“. Hal ini adalah salah satu pesan yang dapat kita ambil dari cerita Daniel 1: 1-21.

Ketika raja Nebukadnezar, memerintahkan agar mengumpulkan beberapa para pemuda Israel untuk mendapatkan pendidikan menganai bahasa dan tulisan Kasdim, Daniel, Hananya, Misael dan Azarya masuk dalam daftar pemuda yang dikumpulkan. Raja menjamu mereka dengan makanan dan minuman yang sama dengan apa yang dimakan dan diminum oleh raja. Namun sekalipun keadaan memungkinkan mereka untuk merasakan apa yang dirasa “populer“ pada masa itu, Daniel dan teman-temannya memilih untuk tidak menajiskan diri mereka (ay.8). Tentunya pilihan Daniel dan teman-teman adalah sebuah pilihan yang tidak populer bagi lingkungan hidup mereka saat itu.

Merasakan apalagi bisa menyantap makanan raja yang merupakan makanan terbaik, tentunya merupakan kerinduan dari setiap rakyat. Makanan dan minuman santapan raja tentunya merupakan santapan terbaik. Apalagi bila makanan dan minuman tersebut diberikan untuk mendukung otak dan tubuh mereka selama masa pendidikan sehingga dapat menjadi yang terbaik. Namun bagi Daniel dan teman-teman, apalah gunanya meraih keberhasilan bila cara yang ditempuh membuat diri mereka menjadi najis. Kesetiaan kepada Allah adalah jauh lebih panting sebab Allahlah sumber pengetahuan yang membuat mereka berhasil bahkan menjadi yang terbaik.

Di tengah perkembangan jaman yang semakin moderen ini banyak “Jalan Pintas“ yang ditawarkan. Takut dan setia kepada Allah seolah menjadi sebuah hal “kuno“ yang tidak lagi populer. Kalau bisa sogok, untuk apa berusaha. Kalau bisa bayar, untuk apa belajar. Kalau bisa korupsi, untuk apa berlama-lama kerja hanya untuk kaya. Kalau bisa sukses lebih cepat, untuk apa takut Tuhan.

Dalam berusaha mencapai cita-cita kita, entah di dunia pendidikan, pekerjaan di kantor, maupun dalam dunia usaha lain, tentunya tidak lepas dari tantangan dan kesulitan tetapi juga kesuksesan. Masa-masa perjuangan inilah, seringkali kita ditawarkan dengan berbagai “jalan pintas“ yang terlihat seperti sesuatu yang populer dan sesuai dengan tuntutan jaman. Pada saat inilah kita dapat belajar dari Daniel dan kawan-kawan, bahwa sumber kehidupan kita adalah Allah.

Jangan takut melawan arus. Jangan takut dibilang kuno. Belajarlah dari tungku api, sekalipun tidak lagi populer tetapi aroma dan rasa yang dihasilkan olehnya, tidak tergantikan. Dengan mempertahankan ketaatan kita kepada Allah dalam kehidupan ini, kita akan tetap merasakan, “AROMA“ dan “RASA“ kehidupan yang tidak dapat diberikan oleh semua “Jalan Pintas“.