Minggu, 04 Desember 2011

JEMAAT: Persekutuan Yang Sadar Konteks


Kata jemaat dan gereja dalam penggunaannya seringkali tertukar. Dalam kehidupan sehari-hari sering terdengar orang bertanya “gereja kamu di mana?” pertanyaan ini kemudian dijawab dengan “gereja saya Ebenhaezer-Oeba” namun sering juga dijawab “saya jemaat Ebenhaezer-Oeba.” Contoh kecil ini menjadi pendorong untuk memahami kembali kata jemaat.

Definisi Jemaat dalam Tager GMIT 2010
Tager GMIT 2010 menjelaskan bahwa kata jemaat dimaknai sebagai persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus yang berdomisili di satu wilayah geografis tertentu dalam rentang waktu yang terukur jelas di mana firman diberitakan, sakramen dilayankan, dan dipimpin oleh Majelis Jemaat.(Naskah ekesiologis, 19-20)
           Penjelasan selanjutnya mengatakan bahwa kata gereja dipakai untuk menamai persekutuan jemaat-jemaat yang disebut GMIT. Setiap jemaat adalah Tubuh Kristus yang utuh namun kegerejaannya terwujud dalam relasi yang universal dengan jemaat-jemaat yang lain. Karena alasan inilah kata GMIT selalu ada didepan nama setiap jemaat contohnya Jemaat GMIT Ebenhaezer-Oeba. Definisi jemaat menurut Tager GMIT 2010 menggambarkan bahwa jemaat terbentuk karena adanya kebutuhan akan adanya persekutuan bersama dalam suatu konteks tertentu. 
 
Arti kata Jemaat
Jemaat berakar pada kata Yunani, eklesia. TDNT menjelaskan bahwa kata eklesia tidak dapat begitu saja dicari dalam etimologi Yunani sebab kata ini berakar dari bahasa Ibrani . Kata eklesia hanya merupakan kata Yunani yang digunakan LXX untuk menerjemahkan kata qahal yang berarti perkumpulan atau orang-orang yang berkumpul (TDNT, 530). dalam PL  kata qahal terutama digunakan untuk merujuk pada umat Israel yang berkumpul dan dipimpin oleh Allah. Sementara PB menggunakan kata eklesia untuk memaknai beberapa hal antara lain gereja lokal, gereja yang universal, sinagoge sebagai tempat berkumpul, pertemuan untuk beribadat, dan sebuah komunitas dalam hal ini gereja (The Dictionary of the Bible, 2000, 274). Penelusuran arti kata eklesia menjelaskan bahwa kata jemaat selalu diperuntukan bagi perkumpulan atau persekutuan tidak pernah digunakan dalam makna individu.

Jemaat: Bersekutu dalam konteks kehidupan
PL menceritakan bahwa Allah mengumpulkan satu persatu UmatNya/qahal untuk menjadi umat Allah/qahal YHWH. Pemanggilan ini tidak hanya agar manusia dapat merasakan karya keselamatan Allah tetapi juga agar Umat Allah dapat meneruskan karya keselamatan Allah. Merasakan karya keselamatan Allah tidak dapat terjadi jika manusia hidup seorang diri. Setiap manusia membutuhkan orang lain untuk merasakan karya keselamatan Allah. Namun pada titik yang sama manusia harus dapat menjadi sesama bagi orang lain sehingga orang lain dapat merasakan karya keselamatan Allah. Hidup dalam persekutuan adalah hakikat manusia sebab ia hadir karena karya keselamatan Allah melalui sesama dan untuk mewujudkan karya keselamatan Allah bagi sesama.
        Ketika YHWH/Allah memanggil dan mengumpulkan umatNya, pemanggilan ini tidak serta merta melepaskan umatNya dari identitas mereka. Allah memanggil Israel dengan seluruh konteks kehidupan budaya, kebiasaan, dan karakternya (Ridderbos, Paul An Outline of His Theology, 1975, 327). Karya keselamatan Allah dirasakan dalam seluruh konteks kehidupan yang ada. Karya keselamatan Allah bukanlah hal yang asing tetapi hadir dari pergumulan setiap hari. Umat Allah bersekutu, menyembah, dan melayani Allah dengan seluruh konteks kehidupan yang dimilikinya.
        Namun pemanggilan sebagai Umat Allah juga mengharuskan kehidupan mereka harus memancarkan identitas sebagai Umat Allah. Konteks kehidupan, budaya, dan kebiasaan harus sejalan dengan identitas sebagai Umat Allah. Dengan kata lain konteks kehidupan, budaya, dan kebiasaan yang tidak menyatakan identitas sebagai Umat Allah harus diperbaharui.
        PB jelas meceritakan bahwa Yesus hidup dan melayani dalam konteks kehidupan pada masa itu. Namun juga PB juga menceritakan bagaimana Yesus juga mengubah kebisaan dan budaya yang ada. Ketika budaya mengatakan bahwa perempuan adalah manusia kelas dua Yesus justru berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Yesus masuk dalam konteks kehidupan pada masanya tetapi juga mampu memperbaharuinya.

Pelayanan Yang Sadar Konteks
Definisi jemaat dalam Tager GMIT dan penjelasan mengenai makna kata jemaat mengantarkan kita untuk memahami bahwa jemaat terbentuk karena adanya kebutuhan akan persekutuan bersama dalam suatu konteks tertentu. Dengan terbentuknya jemaat karya keselamatan Allah tidak menjadi sebuah karya yang asing tetapi nyata dalam konteks kehidupan sehari-hari.
       Pemahaman ini menegaskan bahwa pelayanan jemaat adalah pelayanan yang sadar konteks. Bagaimana memahami Allah dalam tangisan, tawa, dan pergumulan setiap hari dari anggota gereja. Hal ini menjadikan pemetaan kekayaan dan kebutuhan jemaat menjadi hal yang takterhindarkan. Karya keselamatan Allah adalah kehadiran Allah dalam tawa mereka yang kelaparan, gagal panen dan berjuang dengan kemiskinan. Ajaran dan program jemaat GMIT hendaknya menghadirkan Allah sebagai Allah dari Timor, Sabu, Alor, dan Rote. Allah bukan Allah yang jauh tetapi hadir dalam penyertaannya melalui jagung, gula sabu, kacang ijo, dll.
        Pelayanan yang sadar konteks juga berarti pelayanan yang peka terhadap budaya dan kebiasaan yang tidak sejalan dengan indentitas jemaat sebagai Umat Allah. Budaya patriakhi, feodalisme, dan hirarkhi yang ada dihampir semua suku harus mendapat pembaharuan. Karya keselamatan Allah hanya dapat terjadi dalam persekutuan sebab manusia hidup saling membutuhkan. Hal ini menjelaskan bahwa tidak ada satu manusiapun yang lebih tinggi dari yang lain sebab kita saling membutuhkan. Allah mengumpulkan UmatNya satu persatu karena itu setiap Umat sangat berharga bagiNya.