Senin, 26 Desember 2011

Natal, mudik, dan siapakah kita?



Mudik saat Natal Pertama: Penegasan Identitas Yesus.
Mudik atau pulang kampung, bukan hanya tradisi di saat lebaran. Natal juga sangat kental dengan tradisi pulang kampung atau mudik. Natal pertama terjadi saat mudik. Injil Lukas 2: 1-6 menceritakan bahwa Sang Bayi Natal, Yesus Kristus lahir pada saat Maria dan Yusuf sedang mudik ke Betlehem untuk mengikuti sensus. Yusuf membawa tunangannya ke tempat dimana keluarga dan keturunannya berasal. Di tengah-tengah kampung asal Yusuf inilah Yesus dilahirkan. Natal pertama terjadi ketika mudik di Betlehem dan dengan demikian identitas Yesus sebagai keturunan Daud ditegaskan. Ketegasan bahwa Yesus adalah keturunan Daud sekaligus menjadi penegasan bahwa Allah begitu mencintai dunia hingga  janji keselamatan dari keturunan Daud diwujudnyatakan. Mudik saat natal pertama menegaskan bahwa Yesus adalah keturunan Daud yang hidup untuk menyatakan cinta Allah bagi keselamatan dunia. 

Mudik saat Natal Sekarang: Mengingat kembali siapa kita.
Mudik atau pulang kampung juga menjadi ciri khas dari natal di masa sekarang. Orang-orang berlomba-lomba untuk pulang kampung ketika natal. Bukan karena harus melaksanakan sensus tetapi untuk berkumpul bersama-sama dengan keluarga. Ketika pulang kampung inilah cerita-cerita masa kecil mulai kembali dikenang.Doa malam natal bersama keluarga adalah hal yang paling dirindukan. Kue-kue dan kegiatan-kegiatan yang menjadi tradisi setiap keluarga kembali dilakukan. Banyak diantara kita yang melaksanakan natal keluarga. Bagi mereka yang tidak dapat berkumpul bersama keluarga, natal menjadi waktu yang tepat untuk mengingat dan mengenang kembali kenangan manis bersama orang-orang yang disayang. Saat natal, Identitas tentang siapakah kita kembali diingatkan.
        Melalui tradisi “jalan selamat” kepada Opa, oma, om, tante, adik, kakak, para tetangga, dan para kolega, mengingatkan kita bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Kita bisa menjalani hidup sampai pada natal tahun ini karena banyak pengorbanan, perjuangan, air mata, dukungan dari banyak orang. Identitas tentang siapakah kita kembali diingatkan. 

Natal: Panggilan untuk hidup sesuai identitas diri
Tradisi pulang kampung saat Natal hendaknya mengantarkan kita juga untuk kembali mengingat siapakah kita sebenarnya. Kita adalah ciptaan yang dicintai oleh Sang Pencipta hingga merelakan Anaknya lahir dalam palungan, hanya dibungkus dengan lampin.

Natal menjadi pengingat bahwa Allah mencintai kita, bahwa ada keluarga, teman, saudara yang juga mencintai kita. Dengan mengingat identitas ini  kita disiapkan untuk menyambut hidup baru di tahun baru. Hidup baru sesuai dengan identitas kita. Hidup dengan mencintai Allah melalui sesama. Hidup yang dengan rendah hati meneruskan karya keselamatan Allah. Natal berarti mudik, kembali ke kampung, kembali mengingat dan menegaskan siapakah kita, identitas kita. 
        Sebagai lembaga gereja, natal menjadi moment untuk kembali mengingat identitas yang sebenarnya. Dari mana gereja hadir dan untuk apa gereja hadir, masihkah gereja setia mewartakan kabar keselamatan dengan tetap mengingat kesederhanaan natal pertama di kandang domba. Jangan sampai gereja sudah terlena dengan kemewahan hingga melupakan kandang domba bahkan para domba. Tradisi mudik saat natal mengantarkan gereja untuk kembali mengevaluasi identitas dirinya.