Selamat ulang tahun GMIT….
Terasa sungguh sayang ketika harus melewati hari ulang tahun GMIT tanpa sebuah refleksi pribadi. Ketika niat untuk memaknai ulang tahun GMIT terasa kuat dipikiran dengan sendirinya muncul lagi kegelisahan-kegelisahan yang saya temukan ketika persidangan di Naibonat. Persidangan telah berlalu namun rasanya persidangan tersebut masih menjadi bahasan yang hangat hingga sekarang.
Saya kembali mengingat diskusi-diskusi kecil kami beberapa teman yang sering terjadi di emperan ruang sidang. Maklum kami tidak masuk dalam suara-suara sah penentu kebijakan-kebijakan strategis GMIT. Diskusi-diskusi kritis kami mengenai GMIT lebih banyak diselingi dengan bercanda. Satu persatu kami mengeluarkan pikiran kami bahkan tidak jarang kami seolah menjadi orang yang maha tahu tentang GMIT. Terlepas dari semua itu diskusi-diskusi tersebut memperkaya refleksi bergereja kami.
Keadaan diskusi kami berbanding terbalik dengan keadaan situasi persidangan dalam gedung persidangan. Hujan interupsi yang disampaikan dengan nada-nada tinggi seringkali membuat banyak anggota gereja menjadi terpukau sebab tak menyangka para presbiter, orang yang berjabatan gerejawi bersidang demikian. Tak apalah itu dinamika persidangan. Namun salah satu hal yang menggelisahkan hati saya adalah diskusi persidangan yang dikuasai oleh beberapa orang dari klasis-klasis tertentu dan paling banyak kaum laki-laki. Kurangnya suara-suara kaum perempuan menggelisahkan saya sebab sebenarnya jumlah pendeta perempuan dua kali lebih banyak dari pendeta laki-laki. Persidangan dan keputusan-keputusan dalam GMIT masih didominasi oleh para laki-laki.
Kurangnya suara perempuan sejalan dengan kurangnya perhatian persidangan terhadap materi persidangan yang mengatur tentang sistem bergereja. Gairah-gairah persidangan sangat dirasakan justru pada saat pembicaraan mengenai jabatan-jabatan. Contoh nyata adalah satu setengah hari dihabiskan hanya untuk membicarakan satu jabatan sementara draf perpok jabatan dan kekariawanan yang berbicara tentang sistem bagi jabatan-jabatan tersebut tidak sampai setengah jam, dilaksanakan tengah malam saat sebagian bangku peserta sidang sudah kosong. Tidak hanya peserta yang sudah lelah, MKP pada saat itu pun telah jenuh sehingga tidak lagi konsentrasi dalam menawarkan tawaran keputusan untuk draf tersebut. Padahal sebuah jabatan dapat optimal bila dibangun di atas fungsi-fungsi yang jelas.
Structureflows function kata yang berulangkali mendapat penekanan dari Pdt Lazarus Purwanto. Fungsi-fungsi yang dibutuhkan dalam gereja harusnya dijabarkan dulu baru kemudian dibagi dalam jabatan-jabatan gereja. Bila tidak, pendeta akan binggung apa fungsi keberadaannya dalam gereja sehingga tidaksering menjadi manusia setengah dewa yang tahu segalanya, penatua binggung kenapa perannya terasa tumpang tindih dengan diaken, dan para pengajar binggung yang dimaksud dengan pengajar ini apakah mereka yang ditabis sebagai pengajar ataukah juga termasuk pengajarkatekisasi dan sekolah minggu?
Kegelisahan ini akhirnya membawa saya untuk mencoba menggabungkan dua gejala ini. Apakah keterarahan persidangan GMIT pada perebutan jabatan berbanding lurus dengan dominasi kaum laki-laki dalam gereja ?. Rasanya keterarahan persidangan GMIT terhadap jabatan dan bukan pada sistem dikarenakan oleh dominasi kaum laki-laki yang mendapat angin segar dari budaya patriakhi dan feodalisme budaya yang masih sangat kental. Perempuan adalah kaum yang mengurus dalam rumah sementara para lelakilah yang punya hak untuk berbicara dalam pertemuan adat dan menjadi pemimpin dan pengambil keputusan.
Pada titik ini saya tertegun, sebab patriakhisme dan feodalisme bersaudara kandung dengan hirarkhi dan hirarkhi seringkali membungkam kebenaran-kebenaran. Saya menjadi terusbertanya apakah ini penyebab kekalahan suara-suara kritis dalam gereja, dan bila ada justru terlihat sebagai suara-suara aneh dari para pembangkang? Apakah ini penyebab dari kami kaum muda yang hanya berani bersuara kritis di tempat-tempat sepi dan memilih diam di tempat-tempat umum atas nama sebuah kenyamanan?
Entah dimana sudah nilai-nilai pelayanan, kesetaraan, dan kebenaran yang sering ditulis bahkan kotbahkan. Refleksi ini membuat saya memutuskan untuk sejenak berdiam diri, membuka kembali ayat-ayat Alkitab dimana Yesus berbicara dengan perempuan Samaria, cerita dimana Yesus menekankan pada duaorang muridnya jangan ingin dilayani tetapi melayani, cerita tentang kebenaran yang dipegang Yesus hingga mati di kayu salib. Secara tidak sengaja mata saya menatap sebuah buku yang menulis tentang Trinitas yang perikoresis, Allah Trinitas yang dalam kesetaraannya saling mengisi dan berbagi. Dan saya ingin menutup refleksi saya ini dengan megucap syukur karena AllahTrinitas mengijinkan saya melihat semuanya dan menjadi gelisah serta memberi kesempatan untuk berefleksi sehingga hari ulang tahun GMIT ini tidak berlalu tanpa makna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar