Senin, 12 Desember 2011

Jemaat Sebagai Basis


Jemaat tanpa klasis dan sinode bisa berjalan
tetapi klasis dan sinode tidak bisa berjalan tanpa jemaat


Kalimat ini dilontarkan salah seorang teman untuk menunjukkan pentingnya jemaat dalam struktur gereja. Tata gereja GMIT 2011 (tager 2011) dalam tata dasarnya mengatur bahwa kedudukan jemaat adalah sebagai basis penyelenggaraan hidup dan pelayanan GMIT. Kamus Bahasa Indonesia mengartikan kata basis dengan kata dasar. Jemaat sebagai persekutuan anggota-anggota GMIT pada tempat dan lingkungan sosial budaya tertentu adalah dasar atau fondasi dari pelayanan dalam GMIT. Apa makna kata jemaat sebagai basis ?

Misi Gereja dan Keterlibatan Sukarela
Gereja hadir karena, oleh, dan untuk Allah Trinitas. Gereja dipanggil oleh Bapa melalui Firman dan Roh Kudus. Panggilan ini adalah panggilan agar gereja menjadi alat bagi Firman dan Roh untuk bersaksi tentang Kerajaan Allah (Document: The Nature and Mission Of the Church). Dengan kata lain misi adalah hakikat gereja. Gereja adalah gereja yang misioner. Gereja tanpa misi adalah gereja yang menyangkali hakikatnya.
       Hakikat sebagai gereja yang misioner dalam pelaksanaanya tidak mudah. Mady Thung, seorang sosiolog menjelaskan bahwa gereja adalah sebuah lembaga yang unik. Gereja adalah lembaga normative namun keanggotaannya sukarela (Thung, Precarius Ornganitation). Normative sebab gereja adalah lembaga dengan norma-norma yang mengikat anggotanya sementara disisi lain keanggotaan gereja adalah keanggotaan yang sukarela. Moderenisasi membuat masalah agama atau kepercayaan adalah masalah individu yang tidak dapat begitu saja diintervensi oleh orang lain. Setiap orang kristen punya hak untuk memilih keanggotaan gerejanya. Pada masa sekarang sudah bukan hal aneh bila dalam satu rumah, anggota keluarganya memiliki keanggotaan gereja yang berbeda.
      Tantangan bagi gereja adalah bagaimana mengajak anggota yang sukarela ini untuk terlibat menjadi saksi kerajaan Allah dalam seluruh kehidupannya. Gereja misioner atau gereja yang menjadi saksi kerajaan Allah tidak dapat tercapai tanpa keterlibatan anggotanya. Gereja bertugas untuk mempersiapkan setiap anggotanya agar dalam seluruh kehidupannya ia dimampukan menjadi saksi kerajaan Allah.
        Kata kunci dalam menjawab tantangan gereja antara misi dan keterlibatan sukarela adalah kebutuhan. Pelayanan yang menyentuh kebutuhan jemaat akan menjadi pengikat yang menghindarkan anggota gereja melepaskan keanggotaanya. Namun pelayanan yang menyentuh kebutuhan ini, harus juga memampukan anggota gereja untuk menjadi saksi kerajaan Allah. Setiap anggota tidak hanya menerima tetapi juga menjadi subyek dari pelayanan.
       Seorang pejabat pemerintahan dalam pekerjaanya seringkali dihadapkan dengan tuntutan untuk mengambil keputusan yang “abu-abu”. Ajaran dan program kerja harus mampu menyentuh kebutuhan pejabat ini sehingga ia dapat mengambil keputusan yang taat kepada Allah. Dengan demikian pejabat ini menjadi saksi kerajaan Allah. Seorang janda yang tidak memiliki kerja membutuhkan perhatian gereja. Perhatian kepada kebutuhan janda ini sekaligus menjadi kekuatan yang memampukan dirinya untuk memberikan kekuatan bagi para janda yang lain. Seorang tukang ojek yang setiap harinya menghabiskan waktunya dijalanan membutuhkan pelayanan yang memampukan dirinya memaknai pekerjaannya sebagai bagian dari kesaksian bagi kerajaan Allah.
      Tantangan sebagai gereja misioner yang keanggotaanya sukarela adalah tantangan bagaimana mengelola ajaran dan program yang menyentuh kebutuhan anggota namun juga memampukan anggota menjadi subjek dari pelayanan. Pada titik inilah jemaat sebagai persekutuan anggota-anggota memainkan peran penting. Anggota gereja perlu dikelompokan dalam tempat dan lingkungan sosial budaya tertentu sehingga mempermudah pengenalan kebutuhan yang dihadapi. Pengenalan kebutuhan yang baik akan menghasilkan ajaran dan program pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan atau pergumulan hidup anggota.
      Jemaat dikatakan sebagai basis sebab dalam jemaatlah pengenalan kebutuhan anggota-anggota gereja dapat berjalan. Dalam jemaat pula kebutuhan anggota gereja dilayani serta dalam jemaat, anggota gereja dipersiapkan untuk menjadi subjek pelayanan. Ajaran dan program pelayanan adalah hal penunjang yang sangat penting.

Pemahaman Kembali Kata Awam
Jemaat sebagai persekutuan anggota-anggota GMIT memiliki peran penting sebagai basis pelayanan sebab misi gereja dapat tercapai bila anggota-anggotanya terlibat aktif. Keterlibatan aktif jemaat ini perlu dipersiapkan dengan baik dalam jemaat. Peran aktif anggota jemaat menjadi pendorong untuk memahami kembali makna kata awam. Tulisan Andar Ismail dalam buku Awam dan Pendeta menjadi sumber yang baik dalam memahami ulang kata awam.
        Kata awam seringkali diucapkan untuk membedakan antara kelompok yang tidak mengerti teologi dan kelompok yang mengerti teologi. Anggota gereja yang tidak mengerti teologi dikelompokan sebagai awam yang seringkali keberadaannya dianggap sebagai kelompok kelas dua dalam jemaat padahal kelompok yang dianggap awam ini memiliki jumlah jumlah dalam gereja.
       Menurut Andar Ismail pemahaman kata awam sebagai kelompok yang tidak mengerti teologi terjadi karena pada akhir abad ke 1, penggunaan kata awam dalam gereja dipengaruhi oleh budaya Yunani-Romawi. Dalam budaya Yunani-Romawi, kata Yunani laos sebagai akar dari kata lay dan awam digunakan untuk menunjuk rakyat biasa yang tidak mengerti sistem pemerintahan. Sebagai rakyat biasa, laos tidak memiliki kuasa.
         Pengaruh ini mengaburkan pemahaman kata awam menurut Alkitab. Alkitab Septuaginta menggunakan kata laos untuk menyebut Umat Allah seperti dalam Ulangan 7:6. Kata laos digunakan sebagai lawan dari kata ethne yaitu bangsa atau orang yang tidak mengenal Allah. Kisah Rasul 18:10 adalah contoh penggunaan kata laos dalam PB. Terlihat bahwa kata awam berarti adalah Umat Allah yang secara eksplisit berarti Umat Allah yang sehari-hari hidup dan bekerja dalam lingkungan masyarakat. Dari antara Umat Allah inilah yang kemudia sebagian dari antara mereka diteguhkan sebagai pelayan yang bekerja secara penuh dalam lingkungan gereja.

Jemaat Sebagai Basis
Anggota-anggota gereja yang seringkali kita sebut sebagai kaum awam dalah Umat Allah yang menjadi ujung tombak dari misi gereja. Jemaat sebagai persekutuan anggota-anggota GMIT memainkan peran penting dalam persiapan anggota gereja sebagai unjung tombak pelayanan. Ajaran dan program kerja dari jemaat harus menyentuh kehidupan anggotanya dan memampukan mereka juga menjadi subyek dari pelayanan. Bila GMIT mengabaikan kedudukan jemaat sebagai basis dan terus mengembangkan pola pelayanan hirarkhis atas-bawah, maka hanya menunggu waktu untuk melihat jemaat menjadi basis yang rapuh. Ibarat sebuah rumah, bila fondasi dan dasar sudah rapuh maka keruntuhan hanya masalah waktu.

2 komentar: