KLASIS: Sebuah Kekuatan
Satu siang, saat gerimis, saya dan dua orang senior yang sedang
menjalani masa vikariat duduk bersantai sambil berbagi cerita di
teras rumah. Sudah cukup lama kami sibuk dengan urusan dan pelayanan
masing-masing sehingga tidak dapat bertemu untuk bercerita. Saat itu
kami memulai pertemuan dengan bercerita mengenai suka dan duka mereka
selama menjalani masa vikariat. Mungkin tema ini sengaja mereka
angkat agar saya tertarik juga menjadi seorang vikaris setelah
menyelesaikan studi teologi saya.
Bercerita
dengan keduanya adalah hal yang selalu saya rindukan. Dari
cerita-cerita yang ada, kami selalu mendapatkan nilai-nilai
kehidupan yang membuat kami dapat melihat dengan lebih jernih
kehidupan kami masing-masing. Keduanya bukanlah tipe vikaris yang
menjalani masa vikariatnya sebagai sebuah formalitas. Mereka memahami
benar bahwa masa vikariat adalah saat-saat anugrah Tuhan menjawab
kerinduan dan pergumulan hati mereka.
Rutinitas
ibadah yang melelahkan, kesediaan untuk mendengar cerita-cerita hidup
jemaat, kesediaan untuk berbagi waktu dan cerita-cerita dengan
mentor yang sangat mengerti mereka, sudah menyita seluruh waktu yang
mereka miliki. Bukan hanya itu mereka harus tetap secara bijaksana
membagi waktu mereka dengan keluarga sebab keduanya telah berumah
tangga. Semua aktifitas itu seringkali membuat mereka lelah, lelah
secara fisik maupun psikis. Seorang senior berkata “tidak jarang
serasa ingin berteriak, sebab seolah tidak punya waktu untuk diri
sendiri.” Mereka berdua mengakui bahwa pertemuan wadah berbagi,
bertukar cerita, dan menguatkan sangat mereka butuhkan. Kebutuhan ini
sangat masuk akal sebab masa vikariat adalah masa peralihan dari
seorang mahasiswa untuk menjadi pendeta.
Dari
cerita-cerita ini, kami kemudian mulai merunung mengenai beban ganda para
pendeta perempuan. Mereka dituntut menjadi bijaksana. Pola pikir
tradisional yang menempatkan perempuan sebagai pengatur rumah tangga membutuhkan waktu dan perhatian yang besar, sementara disisi lain tuntutan pelayanan menuntut waktu dan perhatian yang tidak sedikit. Mereka seolah tidak memiliki waktu untuk dirinya.
Seluruh waktu digunakan bagi pelayanan gereja dan mengatur rumah
tangga. Hal ini bukan perkara yang mudah.
Wadah
tempat berbagi dan saling menguatkan adalah sebuah kebutuhan para
pendeta. Kenyataan ini sebenarnya juga menunjukan salah satu kekuatan
klasis bagi para pendeta. Klasis sebagai wadah persekutuan seharusnya
juga menjadi tempat bagi para pendeta untuk berbagi dan saling
menguatkan. Tidak mungkin seorang pendeta dapat memikul sendiri beban
pelayannya, ia membutuhkan orang lain. Teman sesama pendeta dapat
lebih mudah memahami pergumulannya.
Satu
hal yang membuat saya tersenyum adalah ketika kami membicarakan
mengenai kekuatan klasis sebagai wadah persekutuan yang saling
menguatkan antarpendeta, salah seorang senior berkata “mana ada
seperti itu, klasis yang selama ini saya pahami adalah penjaga 10%
setoran ke sinode.” Tanpa disadari kenyataan ini adalah akibat dari
mengerucutnya struktur klasis karena kaburnya pemahaman klasis sebagai persekutuan tetapi juga unit pembantu sinode. Dalam prakteknya klasis menjadi lebih identik dengan sebutan KPWK adalah juga
staf sinode.
Namun di sisi lain tidak hanya Aturan
Klasis Tager 1999 yang memiliki andil hilangnya kekuatan klasis.
Solidaritas antarpendeta pun harus dilihat kembali.
Pertemuan-pertemuan klasis bukanlah ajang untuk bertanding model
baju, tas, dll. Pertemuan klasis juga bukanlah ajang untuk
sosialisasi agenda sinode melalui para ketua klasis atau mengamankan
10% setoran ke sinode. Klasis lebih dari pada itu. Pertemuan klasis
adalah juga kekuatan karena para pelayan dapat berbagi cerita dan
saling menguatkan. Tempat saling berbagi sehingga jangan lagi ada
seorang pendeta yang bergumul sendiri bersama jemaatnya untuk
pembangunan gedung gereja, sementara jemaat-jemaat lain dalam satu
klasis seolah tidak peduli dan nyaman dengan gedung ibadah megah yang
telah dimiliki. Dalam persekutuan, berbagi, dan saling menguatkan ada
kekuatan. Dan inilah salah satu kekuatan dari klasis sebagai salah
satu wadah persekutuan di GMIT.
Menyadari
kekuatan persekutuan ini kami bertiga pun berjanji bahwa akan lebih
sering untuk bertemu dan berbagai cerita, sekalipun hanya di teras
rumah. Persekutuan yang sederhana ini memampukan kami menjalani
hari-hari pelayanan dan aktifitas kami dengan selalu bersyukur,
karena kami merasa kami tidak berjuang sendiri. Selalu ada sesama
untuk berbagi. Saya teringat sebuah kata “bukan masalah air mata
atau mata air, tetapi bagaimana caranya bagi-bagi air.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar