Bila kita mendengar kata “setelah menjalin cinta denganmu, aku tidak bisa jatuh cinta kepada orang lain…” maka yakinlah bahwa kata-kata itu adalah rayuan yang diucapkan hanya untuk “menghias bibir”. Ketika kita telah menjalin cinta dengan seseorang, bukan tidak mungkin kita akan juga jatuh cinta atau setidaknya jatuh suka kepada orang lain… namun ini tidak berarti kita dapat menjalin cinta dengan orang lain. Cinta dan komitmen bagaikan dua sisi dari satu kepingan uang logam. Bisa dibedakan tapi tak dapat dipisahkan.
Kita tidak akan pernah bisa menentukan dengan siapa kita akan jatuh cinta… tetapi kita diberikan kebebasan untuk memilih dengan siapa kita akan membangun komitmen cinta. Komitmen itulah yang akan menolong kita, agar sekalipun kita “terbang dan berkelana” sebebas mungkin, namun pada akhirnya akan pulang kepada orang yang bersama dia, kita menjalin komitmen cinta. Komitmen cinta, adalah janji yang dijaga dan diperjuangkan tidak hanya dengan hati tetapi dengan seluruh perbuatan dimanapun dan kapanpun.
Kekuatan komitmen cinta inilah, kita kenal sebagai kesetiaan yang juga dituliskan oleh sang penulis kidung agung 8:6. Materai pada hati dan pada lengan menggambarkan bahwa cinta adalah rasa yang tidak hanya disimpan di hati tetapi juga dinyatakan dalam perbuatan. Betapa kuatnya kekuatan kesetiaan cinta, maka sang penulis bagian ini bahkan membandingkannya dengan dunia orang mati. Tidak hanya itu, air dan api tidak dapat meluluhkan komitmen cinta itu.
Tapi kenapa perselingkungan terjadi ?. Cerita perselingkuhan sudah seperti cerita yang wajar. Atas nama cinta yang lebih baik, kita seolah memiliki hak untuk mengabaikan komitmen kita sebelumnya. Namun percayalah kita tidak akan menemukan makna cinta yang sebenarnya, selama kita menjalin cinta dengan mengabaikan komitmen atau kesetiaan.
Selalu ada kemungkinan untuk mencintai orang lain, sekalipun kita telah berjanji setia kepada orang yang telah bersama kita, membangun komitmen cinta. Namun, biarkanlah komitmen, menjadi alasan untuk menolak menjalin cinta yang lain, sekalipun kita memiliki lebih banyak alasan untuk menerima cinta yang lain itu. Sebab cinta dan komitmen bagaikan dua sisi dari satu kepingan uang logam. Ya.. materai itu tidak hanya diletakan di hati tetapi juga pada lengan….. tidak hanya untuk dirasakan tetapi juga diperjuangkan…
Kita tidak akan pernah bisa menentukan dengan siapa kita akan jatuh cinta… tetapi kita diberikan kebebasan untuk memilih dengan siapa kita akan membangun komitmen cinta. Komitmen itulah yang akan menolong kita, agar sekalipun kita “terbang dan berkelana” sebebas mungkin, namun pada akhirnya akan pulang kepada orang yang bersama dia, kita menjalin komitmen cinta. Komitmen cinta, adalah janji yang dijaga dan diperjuangkan tidak hanya dengan hati tetapi dengan seluruh perbuatan dimanapun dan kapanpun.
Kekuatan komitmen cinta inilah, kita kenal sebagai kesetiaan yang juga dituliskan oleh sang penulis kidung agung 8:6. Materai pada hati dan pada lengan menggambarkan bahwa cinta adalah rasa yang tidak hanya disimpan di hati tetapi juga dinyatakan dalam perbuatan. Betapa kuatnya kekuatan kesetiaan cinta, maka sang penulis bagian ini bahkan membandingkannya dengan dunia orang mati. Tidak hanya itu, air dan api tidak dapat meluluhkan komitmen cinta itu.
Tapi kenapa perselingkungan terjadi ?. Cerita perselingkuhan sudah seperti cerita yang wajar. Atas nama cinta yang lebih baik, kita seolah memiliki hak untuk mengabaikan komitmen kita sebelumnya. Namun percayalah kita tidak akan menemukan makna cinta yang sebenarnya, selama kita menjalin cinta dengan mengabaikan komitmen atau kesetiaan.
Selalu ada kemungkinan untuk mencintai orang lain, sekalipun kita telah berjanji setia kepada orang yang telah bersama kita, membangun komitmen cinta. Namun, biarkanlah komitmen, menjadi alasan untuk menolak menjalin cinta yang lain, sekalipun kita memiliki lebih banyak alasan untuk menerima cinta yang lain itu. Sebab cinta dan komitmen bagaikan dua sisi dari satu kepingan uang logam. Ya.. materai itu tidak hanya diletakan di hati tetapi juga pada lengan….. tidak hanya untuk dirasakan tetapi juga diperjuangkan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar