Rabu, 23 Desember 2009

NATAL TANPA SIMBOL…

H-1 natal….
Coba kita bayangkan… kalau seandainya esok, ketika kita bangun pagi.. ternyata semua simbol-simbol natal kita hilang entah kemana….
Pohon natal…..
Hadiah natal…
Kue natal….
Baju baru....
Dan lebih lagi, ternyata kita berada di sebuah tempat yang jauh dari orang-orang yang kita sayang...... apakah kita masih dapat merasakan bahagia natal....?

Aneh pastinya.... sedih... binggung.... berjuta rasa bercampur baur tentunya...
Tapi saat seperti ini... adalah saat kita belajar untuk mengajukan pertanyaan yang jujur kepada hati kita....
Apa yang sebenarnya kita rindukan ketika natal.... ?
Apakah kita merindukan makna natal itu sendiri.....?
Ataukah tradisi di saat natal tersebut.....?

Banyak sudah simbol-simbol natal yang menjadi tradisi kita, saat natal.... namun biarlah semua tradisi dan simbol itu.. hanya menjadi cara atau jalan bagi kita untuk merasakan..... makna natal yang sebenarnya.... Makna natal yang tanpa simbol... karena datang dari hari yang jujur merindukan Sang Bayi Natal....

Hati yang berbahagia.. karena DIA TELAH DATANG.... ADA BERSAMA DENGAN KITA... DAN AKAN DATANG MENJEMPUT KITA....

Selamat Natal... sambutlah dengan hati yang jujur....tanpa simbol...

Senin, 21 Desember 2009

Kritik Poskolonial dan Imago Dei

Kritik poskolonial melihat dan menemukan bahwa semua tatanan yang terjadi dalam kehidupan kita merupakan sebuah konstruksi budaya yang cukup panjang. Definisi yang kita gunakan dan acuan kita kepada kamus merupakan sebuah contoh. Sebuah contoh nyata, untuk menyebut lawan dari kata iya, orang Kupang menggunakan sonde, orang Ambon menggunakan seng, orang jawa menggunkan Nda dan orang betawi menggunakan kaga. Sejalan dengan perjuangan kemerdekaan dan sumpah pemuda untuk berbahasa satu maka semua bahasa itu direduksi menjadi kata TIDAK.


Konstruksi bahasa ini mempermudah komunikasi kita dengan sesama. Mempermudah keseragaman terutama proses justifikasi bahasa Indonesia. Sayangnya selajan dengan itu, bahasa-bahasa daerah mulai terpinggirkan dan ditinggalkan. Akhirnya budaya seragam menjadi budaya kita. Persatuan identik dengan persamaan. Sesuatu disebut normal bila diakui oleh mayoritas dan diakui secara legal.


Namun harus terus kita ingat, proses ini sebenarnya membawa dampak tersendiri sebab arah pandang kita hanya tertuju pada satu arah. Dimana bahasa di definisikan. Dalam konteks Indonesia harus kita akui Jawa masih selalu menjadi patokan. Bagaimana tidak, di Pulau Jawa inilah hampir semua ilmu di sistematisasikan disekian banyak perguruan tinggi. Definisi-definisi yang dibangun oleh perguruan tinggi daerah seolah menjadi nomor dua.


Demikian juga dengan teologi. Konstruksi teologi membuat arah pandang kita tertuju pada Barat. Terbukti lebih banyak teks-teks teolog Barat selalu menjadi patokan berteologi. Sementara secara jelas arah berpikir dualisme Barat sangat berbeda dengan arah berpikir Timur yang seimbang (Yin/Yang). Dalam konteks lain, penggalian dan pengembangan teologi Indonesia Timur seolah telah terseragamkan atau terwakili oleh teks-teks teologi Barat. Bisa dipastikan sangat kurang sekolah teologi yang menaruh perhatian pada teologi Indonesia Timur yang sebagian besar masih bersifat lisan. Hasilnya jelas, masih banyak teologi tradisi yang berkembang. Teologi yang dipegang karena tradisi bukan karena pengenalan konteks yang baik.


Proses konstruksi sosial dan teologi ini memperlihatkan, bagaimana manusia dilibatkan Allah untuk melanjutkan karya ciptaanNYa. Allah menciptakan dunia tidak seluruhnya menjadi sempurna sejak awal penciptaan. Tetapi dalam batas-batas tertentu ada proses yang diberikan kepada manusia untuk meneruskannya. Allah tidak pernah menciptakan patokan yang pasti mengenai definisi tentang diriNYA. Semua refleksi manusia tentang Allah (Teologi) terbentuk dalam sebuah proses konstruksi yang terjadi dalam ruang dan waktu tertentu.


Manusia dilibatkan Allah dalam proses penciptaan dunia yang terus berlanjut termasuk di dalamnya pendefinisian sosial dan teologi. Keterlibatan manusia untuk mendefinisikan sesuatu (konstruksi sosial dan teologi) sebenarnya telah dimulai sejak pada kisah penciptaan dalam Kejadian 2:19, di saat Allah melibatkan adam dan hawa untuk memberi nama kepada semua ciptaan yang ada. Manusialah yang membuat definisi itu dan dengan definisi itu maka semua yang berada diluar definisi itu tidak terhitung dalam definisi itu. Definisi itu membantu kita untuk memisahkan mana ayam dari bebek, mana bebek dari burung.


Namun hendaknya sebagai manusia yang dilibatkan Allah, kita tetap ingat bahwa keterlibatan manusia dalam proses ini terjadi karena Allah telah menciptakan manusia Segambar dan Serupa dengan DIA. Keterlibatan ini tidak serta merta membuat manusia tidak lagi menjadi ciptaan tetapi keterlibatan manusia dalam proses penciptaan ini dimampukan karena “Imago Dei” Kej. 1:27.


“Imago Dei” menjadi sebuah peringatan tersendiri bagi kita untuk bertanggungjawab terhadap setiap definisi yang dipengaruhi dan mempengaruhi konstruksi teologi dan sosial. "Imago Dei" mengharuskan kita peka terhadap konteks kita sehingga mampu membuat definisi kita. Lebih dari pada itu jangan pernah tertidur untuk terus mempertanyakan definisi-definisi yang kita buat serta jangan memaksa orang lain untuk menerima definis kita sebagai yang mutlak. Definisi seorang ciptaan tidak mungkin mampu menjelaskan Sang Pencipta dan keseluruhan ciptaan secara utuh.


Allah tidak memutlakan definisi diriNYa dan ciptaanNya, sejak dari awal tetapi IA memberikan kesempatan kepada kita untuk mendifinisikannya seturut dengan IMAGO DEI. Itu berarti kita harus mampu mendefinisikan dengan bertanggung jawab dan lebih dari itu menghargai hasil definisi orang lain, sebab setiap konteks mempunyai waktu dan ruang tersendiri.

Minggu, 20 Desember 2009

Hidup = berat di pikiran... nikmat dijalani....


Hari ini..
bangun pagi-pagi benar pukul 04.00…. Hm... jarang-jarang bangun sepagi ini..... Bangun pagi, hari ini, dilakukan dalam rangka mengantarkan salah seorang teman yang akan berangkat ke Korea. Karena mengantarkan dengan mobil sendiri, tak pakai angkutan umum.. ku dengan yakin pergi ke bandara hanya berbekal handphone tanpa membawa dompet....

Ketika hampir sampai di terminal Internasional, pak supir baru sadar kalau uang yang di bawa pas-passan.. hm.. pas buat tol... tak kurang, tak lebih, pas... Tapi ternyata faktanya berbeda... uang yang dibawa tidak diperhitungkan dengan pembayaran uang parkir... Uang untuk tol kurang... jeaaaaaah.... mana dompet tinggal di rumah... seluruh sudut mobil diperiksa untuk menemukan, kemungkinan ada uang yang tertinggal di mobil…. Tetapi hasilnya nihil….

Anehnya…. Pada saat seperti ini ku merasa terlalu santai… untuk dibilang panik. Pa supir yang kelihatan panik agak kesal karena aku terlihat santai…. Jujur.. ku sendiri heran kenapa ku bisa sesantai itu ya…..? Dalam hatiku cuma berbisik “BAPA, KAU punya selera humor yang baik…so.. humor apa yang mau KAU buat bagiku hari ini…?” Perjalanan harus terus dilanjutkan… dengan keluar dari pintu tol terdekat… alhasil kami dari cengkareng mencari jalan biasa tanpa melalui jalan tol…

sampai di Kebun Jeruk.. ternyata jalan yang kami ambil adalah jalan yang harus melewati tol tomang.... oh..tidak.... si supir bertambah panik dan berkata “kita hanya punya 4.000,- mudah-mudahan pas..“, ku hanya bisa senyum sambil berkata “jalan saja pak... kita hadapi nanti...“ dan ternyata tarif tol hanya 2.000,-.... kami selamat....

Setelah keluar dari tol itu kami berada tepat di samping TA Mall... selamat sudah... dan perjalanan dilanjutkan ke pondok bambu....

Dalam perjalanan ke Pondok Bambu..... ku tertawa geli mengingat betapa paniknya pak supir, padahal akhirnya kami bisa pulang dengan baik-baik saja... hm.... ku tertawa geli karena merasa hidupku seringkali seperti itu.... berat di pikiran.... padahal kalau mau dijalani sebenarnya menyenangkan...

Seperti tugas minggu lalu.... seperti biasa ku membaca beberapa buku, berpikir bagaimana alur makalah itu.... tetapi semakin dipikir semakin ruwet.... ku putuskan untuk mulai mengerjakan saja... dan ternyata membuatku tertawa geli sendiri.... 4 hari kuhabiskan untuk berpikir sementara hanya butuh 2 hari untuk mengerjakan makalah itu.... hm.... berat di pikiran...... padahal menyenangkan bila dijalani....

Ku teringat cerita 12 pengintai.... ketika 10 orang berat memikirkan perjalanan yang dihadapi untuk masuk Kanaan, Yosua dan Kaleb malah yakin sebab mereka sadar bahwa Allahlah yang menyertai mereka...... Yosua dan Kaleb tau apa yang harus dihadapi tetapi janji penyertaan Allah membuat mereka merubah cara pandang mereka...

Terkadang pikiran kitalah.... yang membuat kita enggan menjalani hidup..... pikiran membuat kita mengganti kenikmatan kasihNYa dengan keluhan.... ya... terkadang hidup berat di pikiran..... namun sebenarnya menyenangkan bila mau dijalani...

Dikit lagi natal dan tahun baru.... masih ada setumpuk tugas.... 2 laporan buku, 1 makalah konsentrasi 3, ujian proposal tesis oleh 3 dosen... Tesis....hm....harus ku hadapi.... tapi jeaah.. jangan terlalu dipikirkan jalani saja....

Yakinlah bahwa
BAPA yang selalu setia menyertai perjalanan kita adalah DIA yang memiliki selera humor yang baik..... selalu tidak pernah membiarkan kita cemberut terlalu lama.... smile please...

Sabtu, 19 Desember 2009

Nikmati Tapak Demi Tapak Hidup Kita...

Kemarin… adalah hari yang sangat aneh….

Dari pagi sampai sore.. ku merasa sepi sekali.. ku mengalami apa yang disebut orang “sepi dalam keramaian...” jarang-jarang ku bisa merasa seperi itu...


mungkin karena baru saja melewati minggu melelahkan yang menyita banyak waktu, tenaga dan perhatianku... setelah semua itu pergi...malah kehampaan yang datang... ku binggung harus melakukan apa....? sebenarnya lucu juga sih.. bila bertanya apa yang harus kulakukan, sebab banyak buku yang seharusnya ku baca tetapi belum terbaca...hm.....


menjelang malam ku putuskan berjalan-jalan ke monas... sekedar untuk mengambil foto-foto di sana.... dan sesampai di monas... oh... banyak sekali orang.. maklumlah malam minggu...


ku putuskan berjalan memutar monas... berjalan sambil mengingat kembali setiap potongan kehidupan yang telah ku hadapi...

......saat-saat ku merasa bahagia, ketika percaya diri jalani hidup ini, optimis menghadapi masa depan dan bersemangat menghadapi perjuangan ini... pada saat seperti ini, ku seperti sebuah kapal perang yang siap mengarungi lautan untuk bertempur....


....dalam langkah-langkah selanjutnya ku teringat semua saat-saat sedih, ketika ku merasa minder diantara teman-teman, ketika ku merasa tak sanggup, tak layak mendapatkan anugrah ini. Di saatku kelelahan, menangis sepuas-puasnya. Ketika ku mendapatkan nilai yang tidak sesuai dengan kerja kerasku dan ku marah.. pada saat ini.. ku seperti sebuah sampan kecil yang berjuang mengarungi lautan luas...


Satu demi satu... potongan kehidupan itu muncul dan pergi.. sejalan dengan derap langkah kaki yang berjalan... ketika kaki kiri ku anggkat, kaki kanan harus tetap berada di tanah.... dan ketika kaki kanan ku angkat kaki kiri ku tetap berpijak di tanah...

Bergiliran.. satu..demi satu langkah ku tapaki......


Dalam perjalanan ini... ku sadar.. DIA tidak menuntun aku dengan berlari atau melompat-lompat... tetapi dengan berjalan setapak demi setapak... semua potongan kehidupan yang ku alami adalah tapak-tapak yang telah ku lalui....


Ku bersyukur karena DIA menuntunku setapak demi setapak.. sehingga ku bisa menikmati kasihnya dalam setiap tapak-tapak yang kulalui....

Bila ku dipaksa berlari dan melompat, bisa dipastikan ku akan terlalu lelah dan tidak punya waktu berdiam...untuk menikmati kasihNya...Jangan pernah bersedih bila hidupmu terasa seolah berjalan perlahan... nikmati setiap tapak yang kita jalani.. hidup terlalu indah untuk dijalani dengan terburu-buru...


Perjalanan mengitari monas.. membuatku seolah hidup dalam 3 masa.... ku dangberjalan di masa kini, sambil belajar dari masa lalu untuk siap menghadapi masa depan... dan seluruhnya.... ku jalani setapak demi setapak bersama DIA yang rela menuntunku perlahan... setapak demi setapak....

Kamis, 17 Desember 2009

natal palsu...


hm.... sebagai seorang pemula dalam fotografi... ku memutuskan untuk latihan foto di sebuah mall dijakarta... katanya mall itu selalu memberikan dekorasi natal yang indah....

Sesampai di sana... ku semangat untuk melatih kemampuan mengambil foto ku... dekorasi yang indah.. penuh dengan berbagai boneka... seperti dekorasi natal lainnya, dekorasi ini juga mengambil konteks barat...

salju... white Chrismast... dan boneka-boneka beruang yang bermain disebuah rumah pondok....
boneka bear bermain, menyanyi, bergoyang mennyambut natal... di kelilingi oleh sekian banyak hadiah natal... hm.. indah.. natal selalu menyuguhkan semangat keceriaan...

tapi ku tertegun dengan sebuah tulisan yang tergantung disitu...
Please adopt me.... memang.. tulisan ini bisa memunculkan multitafsir... bisa ditafsir sebagai tolong membeli saya... tapi bagiku tulisan ini berarti... ingat juga kepada ku... kenapa?

dekorasi ini... menggambarkan sebuah rumah kayu... dengan hiasan natal berbau barat...
memberikan kesan seperti "gubuk reot yang dipaksa menjadi istana sinterklas..." dengan kata lain... seorang anak miskin yang kelaparan dipaksa tersenyum saat pesta natal....

ini bagaikan... pukulan telak bagi diriku... menjadi sebuah peringatan yang tidak akan ku lupa... satu pertanyaan yang selalu ku pertanyakan dan masih sulit ku jawab... bagaimana menghadirkan makna natal bagi sesama yang termaginalkan... hm.. sulit bagi ku... perjuanganku menghadirkan kesegaran hidup bagi mereka.... hm... ku sedih...