Sabtu, 23 Februari 2013

Presbiterial Sinodal: Harapan bagi yang terlupakan



Tata gereja GMIT tahun 2010 memberikan pemahaman yang lebih lengkap mengenai presbiterial sinodal. Dalam naskah Eklesiologinya dengan tegas menggambarkan pemilihan presbiterial sinodal sebagai asas GMIT tidak hanya di dasarkan pada pertimbangan sejarah. Calvin bukanlah pemilik GMIT, ajarannya hanyalah salah satu kekayaan teologi yang mempengaruhi GMIT. Sebagai gereja milik Allah Trinitas, GMIT hendaknya dibangun dari pemahaman dirinya sebagai milik Allah yang dipanggil untuk kembali melayani.

Presbiterial sinodal dipilih oleh GMIT karena kesadaran bahwa dirinya adalah Imamat Am, persekutuan yang dipanggil dan diutus kembali untuk melayani. Karena panggilan inilah GMIT juga memahami dirinya sebagai gereja yang bersedia untuk terus mereformasi dirinya termasuk belajar dari cerita para reformator yang melawan hierarkhi dalam gereja. 


Presibeterial sinodal dalam GMIT terwujud dalam kepemimpinan yang komunal dan kesediaan jemaat-jemaat untuk hidup bersama dalam persekutuan baik klasis, maupun sinode. Dalam kepemimpinan komunal dan kesediaan hidup bersekutu perbedaan dihargai sebagai kekayaan dan bukan sumber untuk saling mendominasi. Persekutuan yang bersedia hidup dalam keberagaman dan keseteraan menjadi nilai-nilai utama dari presbiterial sinodal. Nilai-nilai tersebut merupakan cerminan dari kehidupan Sang Trinitas yang hidup dalam persekutuan yang menghargai perbedaan dan kesetaraan.  


Pemahaman diri tersebut juga bertemu dengan kebutuhan konteks. Konteks pelayanan GMIT adalah konteks yang plural dari segi budaya, kebiasaan, bahasa, umur, profesi dan masih banyak perbedaan lainnya. Persekutuan yang hidup dalam keberagaman dan kesetaraan merupakan persekutuan yang menghargai kenyataan plural yang ada dalam konteks pelayanan GMIT namun tetap meletakan itu semua dalam “tarian” bersama menuju Misi Allah Trinitas. 


Kenyataan konteks GMIT yang plural sekaligus menjadi petunjuk kompleksnya kebutuhan pelayanan di GMIT. Presbiterial sinodal sebagai persekutuan yang hidup dalam keberagaman dan kesetaraan hendaknya juga dipahami sebagai persekutuan dengan keberagaman kebutuhan yang kompleks. Pembagian pelayanan kategorial berdasarkan umur sudah tidak lagi dapat menjawab kebutuhan pelayanan. 


Contoh kecil, hampir dapat dipastikan sangat kurang gedung gereja di GMIT yang dengan sengaja menyediakan jalan masuk untuk kursi roda bagi anggota gereja lansia dan disabilitas. Gedung gereja cenderung dibangun dengan bertangga-tangga tanpa menyediakan gagang pegangan bagi kaum lansia. Tidak adanya ruang menyusui bagi ibu-ibu dalam gedung kebaktian, penggunaan gedung gereja cenderung untuk orang dewasa. Belum lagi tidak adanya gereja yang mengalokasikan pelayanannya bagi korban dan penyintas Tragedi ’65. Contoh-contoh kecil ini menjadi pertanda sejauh mana gereja peka terhadap kebutuhan anggotanya. Masih banyak kebutuhan-kebutuhan anggota yang terlupakan sekalipun sebagian besar kehidupan GMIT dibiayai oleh anggota-anggotanya dan bukankah Sang Pemilik Gereja memandatkan untuk melayani diriNya melalui pelayanan kepada anggota gereja


Dengan perkembangan pemahaman presbiterial sinodal, persekutuan yang hidup dalam keberagaman dan kesetaraan hendaknya menjadi harapan baru adanya kepekaan terhadap kompleksnya keberagaman kebutuhan pelayanan dalam gereja. Tidak ada anggota dengan kelas VIP atau ekonomi, tidak ada anggota yang penting atau tidak penting sebab Allah Trinitaslah yang mengumpulkan satu demi satu umatNya.