Kritik poskolonial melihat dan menemukan bahwa semua tatanan yang terjadi dalam kehidupan kita merupakan sebuah konstruksi budaya yang cukup panjang. Definisi yang kita gunakan dan acuan kita kepada kamus merupakan sebuah contoh. Sebuah contoh nyata, untuk menyebut lawan dari kata iya, orang Kupang menggunakan sonde, orang Ambon menggunakan seng, orang jawa menggunkan Nda dan orang betawi menggunakan kaga. Sejalan dengan perjuangan kemerdekaan dan sumpah pemuda untuk berbahasa satu maka semua bahasa itu direduksi menjadi kata TIDAK.
Konstruksi bahasa ini mempermudah komunikasi kita dengan sesama. Mempermudah keseragaman terutama proses justifikasi bahasa Indonesia. Sayangnya selajan dengan itu, bahasa-bahasa daerah mulai terpinggirkan dan ditinggalkan. Akhirnya budaya seragam menjadi budaya kita. Persatuan identik dengan persamaan. Sesuatu disebut normal bila diakui oleh mayoritas dan diakui secara legal.
Namun harus terus kita ingat, proses ini sebenarnya membawa dampak tersendiri sebab arah pandang kita hanya tertuju pada satu arah. Dimana bahasa di definisikan. Dalam konteks Indonesia harus kita akui Jawa masih selalu menjadi patokan. Bagaimana tidak, di Pulau Jawa inilah hampir semua ilmu di sistematisasikan disekian banyak perguruan tinggi. Definisi-definisi yang dibangun oleh perguruan tinggi daerah seolah menjadi nomor dua.
Demikian juga dengan teologi. Konstruksi teologi membuat arah pandang kita tertuju pada Barat. Terbukti lebih banyak teks-teks teolog Barat selalu menjadi patokan berteologi. Sementara secara jelas arah berpikir dualisme Barat sangat berbeda dengan arah berpikir Timur yang seimbang (Yin/Yang). Dalam konteks lain, penggalian dan pengembangan teologi Indonesia Timur seolah telah terseragamkan atau terwakili oleh teks-teks teologi Barat. Bisa dipastikan sangat kurang sekolah teologi yang menaruh perhatian pada teologi Indonesia Timur yang sebagian besar masih bersifat lisan. Hasilnya jelas, masih banyak teologi tradisi yang berkembang. Teologi yang dipegang karena tradisi bukan karena pengenalan konteks yang baik.
Proses konstruksi sosial dan teologi ini memperlihatkan, bagaimana manusia dilibatkan Allah untuk melanjutkan karya ciptaanNYa. Allah menciptakan dunia tidak seluruhnya menjadi sempurna sejak awal penciptaan. Tetapi dalam batas-batas tertentu ada proses yang diberikan kepada manusia untuk meneruskannya. Allah tidak pernah menciptakan patokan yang pasti mengenai definisi tentang diriNYA. Semua refleksi manusia tentang Allah (Teologi) terbentuk dalam sebuah proses konstruksi yang terjadi dalam ruang dan waktu tertentu.
Manusia dilibatkan Allah dalam proses penciptaan dunia yang terus berlanjut termasuk di dalamnya pendefinisian sosial dan teologi. Keterlibatan manusia untuk mendefinisikan sesuatu (konstruksi sosial dan teologi) sebenarnya telah dimulai sejak pada kisah penciptaan dalam Kejadian 2:19, di saat Allah melibatkan adam dan hawa untuk memberi nama kepada semua ciptaan yang ada. Manusialah yang membuat definisi itu dan dengan definisi itu maka semua yang berada diluar definisi itu tidak terhitung dalam definisi itu. Definisi itu membantu kita untuk memisahkan mana ayam dari bebek, mana bebek dari burung.
Namun hendaknya sebagai manusia yang dilibatkan Allah, kita tetap ingat bahwa keterlibatan manusia dalam proses ini terjadi karena Allah telah menciptakan manusia Segambar dan Serupa dengan DIA. Keterlibatan ini tidak serta merta membuat manusia tidak lagi menjadi ciptaan tetapi keterlibatan manusia dalam proses penciptaan ini dimampukan karena “Imago Dei” Kej. 1:27.
“Imago Dei” menjadi sebuah peringatan tersendiri bagi kita untuk bertanggungjawab terhadap setiap definisi yang dipengaruhi dan mempengaruhi konstruksi teologi dan sosial. "Imago Dei" mengharuskan kita peka terhadap konteks kita sehingga mampu membuat definisi kita. Lebih dari pada itu jangan pernah tertidur untuk terus mempertanyakan definisi-definisi yang kita buat serta jangan memaksa orang lain untuk menerima definis kita sebagai yang mutlak. Definisi seorang ciptaan tidak mungkin mampu menjelaskan Sang Pencipta dan keseluruhan ciptaan secara utuh.
Allah tidak memutlakan definisi diriNYa dan ciptaanNya, sejak dari awal tetapi IA memberikan kesempatan kepada kita untuk mendifinisikannya seturut dengan IMAGO DEI. Itu berarti kita harus mampu mendefinisikan dengan bertanggung jawab dan lebih dari itu menghargai hasil definisi orang lain, sebab setiap konteks mempunyai waktu dan ruang tersendiri.