Sabtu, 27 Februari 2010
Antara putar balik dan putar balek.
Minggu, 21 Februari 2010
Persahabatan bagai Kedondong....
Ketika jenuh berhadapan dengan tugas-tugas yang tak pernah selesai… saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan menyegarkan pikiran ini dengan membuat sebuah tulisan lepas. Kebetulan ada seorang teman yang meminta menuliskan baginya sebuah cerita tentang persahabatan. Lebih tepatnya tentang dua sahabat lama… hm.. ternyata cukup susah… Saat mencoba menyusun alur berpikir tulisan ini, tiba-tiba terdengar lagu, dengan lirik… “persahabatan bagai kepompong….. merubah ulat menjadi kupu-kupu….”. Seperti biasanya, saya selalu merubah lagu ini menjadi “persahabatan bagai ke dondong…..” hm.. bukan maksud hati menjelekkan lagu tersebut, tapi hanya ingin tersenyum ketika menyanyikan ubahan lagu tersebut…
Kedondong….. adalah salah satu jenis buah-buahan yang memiliki bentuk yang indah bila dilihat dari luar. Sedangkan isi dalam dari kedondong sendiri, terdiri dari dua bagian, daging buah dan serat… siapa yang memakan buah ini, harus mampu memisahkan daging dan seratnya….
Bukankah persahabatan seperti buah kedondong…?
Sangat indah ketika kita melihat dua orang atau beberapa orang hidup dengan saling bersahabat. Tidak sering banyak sekali symbol yang dibuat untuk mempererat persahabatan yang ada. Menggunakan gelang yang sama, baju dipesan bersama, janjian makan bersama… dan banyak lagi kegiatan lainnya. Sering kegiatan ini membuat orang yang ada disekitar melihat dengan tatapan iri…
Namun, mari melihat lebih cermat isi dari persahabatan tersebut…..
Hm.. ternyata tidak hanya ada “daging” yang baik untuk dimakan tetapi juga terdapat “serat” yang tidak menyenangkan.
- Dalam persahabatan… tidak kita menemukan tempat untuk berbagi cerita tetapi juga tempat kita harus meluangkan waktu kita untuk mendengarkan cerita sekalipun, mungkin cerita itu tak penting bagi kita…..
- Dalam persahabatan…. Tidak hanya menemukan tempat dimana kita diterima apa adanya tetapi juga kita harus menerima teman kita apa adanya. Sering kita kesal kepada sahabat karena perbuatannya tapi bukankah kita harus menerinya apa adanya…
- Dengan persahabatan, kita tidak akan merasa sendiri dalam menjalani hidup ini. Ada orang yang bersama-sama berbagi tangisan dan tawa dengan kita. Namun harus kita akui bahwa seringkali kita kesal karena merasa bahwa sang sahabat terlalu mencampuri urusan pribadi… seolah kita tak punya waktu untuk diri sendiri…
- Dalam persahabatan... kita akan menjadi orang yang berbangga ketika sahabat kita meraih prestasi.. tapi kita juga akan merasakan malu bila sang sahabat melakukan kesalahan....
- Seorang sahabat adalah orang paling mengetahui kelebihan dan keinginan kita.. tetapi juga kelemahan dan kebencian kita… sahabat dapat membuat kita menjadi seorang yang paling berbahagia.. tapi dia juga dapat berubah menjadi orang yang paling kita benci.
Persahabatan itu utuh… seperti buah kedongdong… ada daging tapi juga ada serat… ada kebagiaan tetapi ada juga yang tidak menyenangkan…. tergantung bagaimana kita menyikapinya...
Bukankah keutuhan persahabtan juga yang diajarkan oleh amsal 17:17…. Ya… seorang sahabat menaruh kasih setiap saat… tidak hanya saat suka tetapi juga dalam kesukaran…
Belajar dari tungku api & Daniel 1: 1-21.
Perkembangan zaman dapat dilihat dari berkembangnya perabotan dapur salah satunya terlihat jelas dari perubahan yang terjadi dari Tungku Api, Komfor Minyak dan Komfor Gas. Kehadiran Tungku api semakin tergusur, dan terpinggirkan dengan hadirnya komfor minyak tanah dan komfor gas. Ribet, kotor bahkan kampungan menjadi alasan yang dilebelkan pada tungku api. Penggunaan tunggku api tidak lagi sepopuler dulu pada jamannya.
Memang, harus diakui, perkembangan zaman mendahulukan kecepatan dari kelambatan, memilih sesuatu yang simple dari pada yang ribet. Tapi dalam catatakan kehidupan kita, tidak dapat dipungkiri bahwa makanan yang dimasak dengan tungku api dapat memberikan AROMA makanan yang jauh lebih khas. Tungku api dapat memberikan RASA yang unik pada makanan. Dalam keterdesakannya tunggku api mengajarkan kita bahwa semua yang kuno belum tentu lebih buruk, ada hal-hal yang tidak mampu digantikan oleh peralatan yang lebih populer. Semua punya kelemahan dan kelebihan.
Bukan sebuah kesalahan bila cara hidup kita, disesuaikan dengan zaman yang berubah ini. Bahkan sebuah keharusan bagi kita untuk menyesuaikan cara hidup kita dengan perubahan zaman. Yang menjadi masalah adalah ketika kita hendak menghalalkan segala cara, sehingga dengan mudah kita mencapai apa yang kita inginkan. Atas nama perkembangan dunia dan tuntutan zaman, orang seringkali lebih memilih “jalan pintas“. Hal ini adalah salah satu pesan yang dapat kita ambil dari cerita Daniel 1: 1-21.
Ketika raja Nebukadnezar, memerintahkan agar mengumpulkan beberapa para pemuda Israel untuk mendapatkan pendidikan menganai bahasa dan tulisan Kasdim, Daniel, Hananya, Misael dan Azarya masuk dalam daftar pemuda yang dikumpulkan. Raja menjamu mereka dengan makanan dan minuman yang sama dengan apa yang dimakan dan diminum oleh raja. Namun sekalipun keadaan memungkinkan mereka untuk merasakan apa yang dirasa “populer“ pada masa itu, Daniel dan teman-temannya memilih untuk tidak menajiskan diri mereka (ay.8). Tentunya pilihan Daniel dan teman-teman adalah sebuah pilihan yang tidak populer bagi lingkungan hidup mereka saat itu.
Merasakan apalagi bisa menyantap makanan raja yang merupakan makanan terbaik, tentunya merupakan kerinduan dari setiap rakyat. Makanan dan minuman santapan raja tentunya merupakan santapan terbaik. Apalagi bila makanan dan minuman tersebut diberikan untuk mendukung otak dan tubuh mereka selama masa pendidikan sehingga dapat menjadi yang terbaik. Namun bagi Daniel dan teman-teman, apalah gunanya meraih keberhasilan bila cara yang ditempuh membuat diri mereka menjadi najis. Kesetiaan kepada Allah adalah jauh lebih panting sebab Allahlah sumber pengetahuan yang membuat mereka berhasil bahkan menjadi yang terbaik.
Di tengah perkembangan jaman yang semakin moderen ini banyak “Jalan Pintas“ yang ditawarkan. Takut dan setia kepada Allah seolah menjadi sebuah hal “kuno“ yang tidak lagi populer. Kalau bisa sogok, untuk apa berusaha. Kalau bisa bayar, untuk apa belajar. Kalau bisa korupsi, untuk apa berlama-lama kerja hanya untuk kaya. Kalau bisa sukses lebih cepat, untuk apa takut Tuhan.
Dalam berusaha mencapai cita-cita kita, entah di dunia pendidikan, pekerjaan di kantor, maupun dalam dunia usaha lain, tentunya tidak lepas dari tantangan dan kesulitan tetapi juga kesuksesan. Masa-masa perjuangan inilah, seringkali kita ditawarkan dengan berbagai “jalan pintas“ yang terlihat seperti sesuatu yang populer dan sesuai dengan tuntutan jaman. Pada saat inilah kita dapat belajar dari Daniel dan kawan-kawan, bahwa sumber kehidupan kita adalah Allah.
Jangan takut melawan arus. Jangan takut dibilang kuno. Belajarlah dari tungku api, sekalipun tidak lagi populer tetapi aroma dan rasa yang dihasilkan olehnya, tidak tergantikan. Dengan mempertahankan ketaatan kita kepada Allah dalam kehidupan ini, kita akan tetap merasakan, “AROMA“ dan “RASA“ kehidupan yang tidak dapat diberikan oleh semua “Jalan Pintas“.
Jumat, 19 Februari 2010
CINTA & KOMITMEN, Berbeda tapi jangan dipisahkan...
Kita tidak akan pernah bisa menentukan dengan siapa kita akan jatuh cinta… tetapi kita diberikan kebebasan untuk memilih dengan siapa kita akan membangun komitmen cinta. Komitmen itulah yang akan menolong kita, agar sekalipun kita “terbang dan berkelana” sebebas mungkin, namun pada akhirnya akan pulang kepada orang yang bersama dia, kita menjalin komitmen cinta. Komitmen cinta, adalah janji yang dijaga dan diperjuangkan tidak hanya dengan hati tetapi dengan seluruh perbuatan dimanapun dan kapanpun.
Kekuatan komitmen cinta inilah, kita kenal sebagai kesetiaan yang juga dituliskan oleh sang penulis kidung agung 8:6. Materai pada hati dan pada lengan menggambarkan bahwa cinta adalah rasa yang tidak hanya disimpan di hati tetapi juga dinyatakan dalam perbuatan. Betapa kuatnya kekuatan kesetiaan cinta, maka sang penulis bagian ini bahkan membandingkannya dengan dunia orang mati. Tidak hanya itu, air dan api tidak dapat meluluhkan komitmen cinta itu.
Tapi kenapa perselingkungan terjadi ?. Cerita perselingkuhan sudah seperti cerita yang wajar. Atas nama cinta yang lebih baik, kita seolah memiliki hak untuk mengabaikan komitmen kita sebelumnya. Namun percayalah kita tidak akan menemukan makna cinta yang sebenarnya, selama kita menjalin cinta dengan mengabaikan komitmen atau kesetiaan.
Selalu ada kemungkinan untuk mencintai orang lain, sekalipun kita telah berjanji setia kepada orang yang telah bersama kita, membangun komitmen cinta. Namun, biarkanlah komitmen, menjadi alasan untuk menolak menjalin cinta yang lain, sekalipun kita memiliki lebih banyak alasan untuk menerima cinta yang lain itu. Sebab cinta dan komitmen bagaikan dua sisi dari satu kepingan uang logam. Ya.. materai itu tidak hanya diletakan di hati tetapi juga pada lengan….. tidak hanya untuk dirasakan tetapi juga diperjuangkan…
Selasa, 09 Februari 2010
“TUNTUTANMU MENGALIHKAN DUNIAKU”
“Cantikmu mengalihkan duniaku”. Kutipan ini adalah sebuah slogan yang digunakan oleh salah satu iklan kosmetik. Bunyi slogan ini, bisa kita rubah sehingga menjadi “masalah mengalihkan duniaku”. Bukankah ketika kita berhadapan dengan masalah, seringkali wajah ceria kita beralih menjadi cemberut bahkan tangisan?. Ucapan syukur pun dengan mudah beralih menjadi menjadi persungutan.
Demikian juga dengan keadaan yang dialami bangsa Israel ketika hendak memasuki Kanaan. Pada pasal 13:1, Allah sendiri yang meminta Musa untuk mengirimkan 12 orang pengintai untuk mengintai tanah Kanaan. Seperti yang kita baca dalam cerita ini, sepuluh dari dua belas pegintai membawa berita yang menakutkan bagi bangsa Israel (13:27-29). Berita yang menakutkan inilah yang akhirnya mengalihkan pandangan bangsa Israel sehingga akhirnya mereka malah bersungut-sungut dan bahkan mengatakan bahwa Allah membawa mereka untuk membinasakan mereka (14:3).
Namun berbeda dengan dua pengintai lainnya yaitu Yosua dan Kaleb. Mereka berdua juga turut mengintai keadaan Kanaan, itu berarti mereka cukup tau masalah dan tantangan apa yang akan dihadapi bangsa Israel ketika memasuki tanah Kanaan. Apa yang membuat sikap kedua orang pengintai itu berbeda dari kesepuluh pengintai lainnya?.
Pasal 14:8-9, jelas memberitahukan alasannya. Tantangan dan masalah yang akan dihadapi dalam perjalanan masuk ke tanah Kanaan tidak serta merta mengalihkan pandangan Yusoa dan Kaleb kepada masalah, sebab mereka yakin dan percaya akan tuntunan Tuhan.
Pasal 14:11, jelas mengambarkan bahwa telah banyak mujizat yang Allah buat bagi Israel dalam perjalanan mereka sampai pada titik ini. Namun masalah dengan begitu saja mengalihkan bahkan menghapus semua pengalaman tuntutan Allah bagi mereka. Keraguan dan ketakutan membuat mereka meragukan tuntuanan Allah.
Pertanyaan dapat hadir disini, kenapa Allah sendiri menyuruh Musa untuk mengirimkan para pengintai, bukankah itu berarti Allah ingin agar Israel mengetahui kekuatan dan kelebihan para musuh?. Wajar saja bila orang Israel mejadi takut karena fakta mengatakan bahwa musuh yang akan mereka hadapi itu jauh lebih kuat dari mereka?.
Memang benar Allah ingin Israel mengetahui kekuatan musuh. Tapi melalui hasil pengintaian ini Allah ingin agar Israel menjadi sadar bahwa masalah dan tantangan besar akan mereka hadapi, oleh karena itu hendaknya mereka berserah dan bersandar penuh kepada Allah. Pengalaman akan tuntunan Allah seharusnya mampu mengalihkan pandangan Israel, dari masalah kepada kekuatan tuntutan Allah.
Tak ada orang yang hidup tanpa masalah. Tuntunan Allah tidak menghapuskan masalah dari hidup kita tetapi memampukan kita melewati masalah. Cara pandang kita terhadap masalah mempengaruhi cara kita mengatasi masalah. Oleh karena itu ketika kita menghadapi masalah ingatlah bahwa tuntunan Allah hendaknya mengalihkan dunia kita. Dari dunia yang penuh ketakutan karena masalah, kepada dunia yang penuh dengan kekuatan untuk mengatasi masalah.