Kamis, 27 Mei 2010

Yesus dalam gambaran seorang istri yang sederhana...


Waktu yang paling dirindukan adalah waktu dimana dapat berbagi cerita dengan mama…
Pagi ini, salah satu cerita yang paling ku sukai adalah cerita tentang salah seorang tetangga kami, ketika papa masih bertugas di Jemaat Imanuel- Oepura, salah satu jemaat dari GMIT.
          Sebut saja nama ibu ini adalah “ma ci”…. Itu sapaan yang biasa kami berikan kepadanya… seperti sebagian besar jemaat GMIT, mereka hidup dalam kesederhanaan… rumah sederhana tetapi selalu bersih dan rapi…. Di tata dengan bunga-bunga yang ditanam sendiri…. dalam pot-pot bunga sederhana buatan tangan sendiri… dengan menggunakan bahan daur ulang dari kaleng-kaleng cat… rumah itu selalu memberikan gambaran kesederhanaan… kesegaran dan kekeluargaan…. Rasa nyaman selalu dirasakan ketika bermain di tempat itu…
          Gambaran rumah ini… jauh berbeda dari gambaran pergumulan hidup yang dijalani ma ci…. Ia seorang single parent yang ditinggal pergi oleh suaminya… enam orang anak harus dibesarkan oleh dirinya yang tidak memiliki pekerjaan dan keahlian tetap…
          Tertatih… tatih…. setiap hari ia membesarkan dan menjaga serta menyekolahkan anaknya… dilakukan dengan rasa syukur dan iman bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dia… harapan selalu ada, bahwa Tuhan selalu ada dalam setiap tangisan dan tawanya….
          Setelah puluhan tahun ia membesarkan anak-anaknya, hingga hampir seluruh anak-anaknya telah menikah… sang bapak yang telah lama pergi meninggalkan dirinya dan pergumulan hidupnya… akhirnya kembali…  namun cerita tidak berakhir disini…. Suaminya kembali tidak lagi dalam keadaan normal…  kembali karena telah terserang struk… kaki dan mulutnya tidak dapat berfungsi dengan normal lagi…
          Sama seperti ketabahan dan kegigihan menjalani hidupnya sendiri… ma ci menerima dan merawat suaminya…. Apa adanya…. Tulus… tidak sungkan-sungkan ia berjuang sekuat tenaga merawat, mengobati dan melayani suaminya… hingga sekarang.. perlahan demi perlahan suaminya dapat berjalan dan berbicara lagi…. Ia teguh bergumul… tanpa sadar ia telah mendefinisikan apa  itu kasih ya.. melupakan… memaafkan… mengampuni… melayani tanpa pamrih...

Banyak buku…. Banyak teolog… yang mencoba mendefinisakan apa itu kasih… namun ku menemukan siapa itu Yesus dan kasihNYA… dalam gambaran kesederhanaan hidup yang diajarkan oleh ma ci…. Ia bukan pendeta.. bukan misionaris.... bukan orang yang mempunyai karunia khusus… ia hanya seorang perempuan sederhana  yang menampakan siapa itu Yesus yang sebenarnya…

Minggu, 16 Mei 2010

Aku akan sia-sia tanpa sesamaku...

Semua orang punya rasa takut...
Ketakutanku yang terbesar pada titik ini..
Adalah... bila hidup menjadi sia-sia...
Tak bermakna bagi sesama...

Untuk apa ku bertemu banyak orang hari ini... bila menyapapun, ku enggan...
Untuk apa ku mengelilingi kehidupanku dengan banyak teman... bila tak bermakna bagi mereka...
Untuk apa ku membaca banyak buku, hanya untuk membuat ku pintar tanpa mampu membuat orang lain, juga menjadi pintar...
Untuk apa ku kejar ilmu... bila hanya untuk mempercantik diri...

sia-sia bertemu orang.. 
bila hanya mampu menyapa orang yang memberi keuntungan bagi ku...
sia-sia berteman....
bila hanya ingin menemukan apa yang menjadi kekurangannya, sehingga diriku menjadi lebih
sia-sia membaca banyak buku...
bila tak mampu mengimplikasikannya bagi sesama...
Tak ingin menjadi pintar...
bila dengan itu dengan itu, ku hanya mampu menertawakan kebodohan orang lain bahkan menggunakannya untuk keuntungan diri sendiri....

Aku hanya dapat bermakna bila bersama Engkau, Dia dan Mereka....
Sebab bersama Engkau... Dia.. dan Mereka...
Ku mengetahui siapa diriku... dan makna kehadiranku....
Dalam persekutuan..... kebersamaan... hidup ini menemukan makna.... 
Tidak menjadi sia-sia...

Karena itulah...
Ku meminta sebuah hidup yang sederhana...
Sebab dalam kesederhanaan terletak kerelaan untuk berbagi....
Jauh.. dari ketamakan untuk mengumpulkan bagi diri sendiri...

Kesederhanaan hidup... yang dilandasi keinginan untuk berbagi adalah harta yang tak terbeli... 
ya.. kerena Aku.. tak bisa hidup dan bermakna tanpa sesamaku....

Tolong aku Tuhan... tuntun tanganku... jangan sia-sia karya hidupku...