Sabtu, 18 Desember 2010

Natal.. memanggil kita pulang memaknai makna keluarga….


Natal…
ketika mendengar kata ini… satu hal yang akan terlintas adalah pulang….
Lahir dari sebuah keluarga yang setia melaksanakan doa keluarga dimalam natal..
Membuat masa itu selalu dirindukan….

Pulang ke rumah….
 Kembali ke keluarga tempat yang menjadi pintu masukku ke dunia…
Kembali mengenang makna setiap mereka yang berjasa untuk hidupku…
Kembali merasa bahwa ku tak pernah berjuang sendiri dalam menghadapi hidup…
Kembali memaknai bahwa hidup ini bermakna sebab memiliki tujuan….
Kembali pada nilai-nilai dari titik awal yang menjadi dasar kehidupan…
Kembali pada titik nol edentitas kita..

IA lahir dalam keluarga…. Memulai karyanya dalam keluarga….
Karena itu natal memanggil kita pulang untuk memaknai makna keluarga…. Fase pertama kehidupan kita…


Jumat, 26 November 2010

Kasih…. Adalah kekuatan yang menopang manusia pada titik nol sekalipun…

Diam….
Seringkali ku menjadi terdiam ketika melihat sesuatu yang menurutku dasyat…
Kali ini aku menjadi terdiam ketika melihat kekuatan KASIH…
Kekuatan kasih yang tidak ditemukan dalam tumpukan rak buku…
Kekuatan kasih yang tidak terggambarkan oleh teori seorang teolog besar sekalipun….
Kekuatan kasih yang mampu membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin….

Kekuatan kasih itu justru ku temukan dalam Kasih dari para pengasuh terhadap anak berkebutuhan khusus…
Bagi banyak orang… bercanda… bercerita… bernyanyi …bersama mereka ada sebuah kemustahilan…
komunikasi merupakan sebuah hal yang tidak mungkin….

Tapi…. Sentuhan kasih….
Membuat mereka bisa bercanda…
Mereka bisa saling berkomunkasi…
Mereka bisa saling berbagi cerita…
Kasih itu memanusiakan sesama manusia…

Kasih…. Adalah kekuatan yang menopang manusia pada titik nol sekalipun…


Jumat, 08 Oktober 2010

ALLAH sering diam…. untuk membiarkan kita bertanggungjawab…


Diam… sekali lagi Allah diam… DIA terlalu sering diam..
Diam melihat bencana yang menimpa sekian banyak orang  yang tidak bersalah..
Diam ketika sakit mengambil seorang anak tunggal dari keluarga yang sangat mencintainya..
Dan baru saja DIA diam.. lagi,  ketika melihat “TubuhNYa” dipermainkan oleh sekelompok orang.. 
Diam ketika para petinggi gereja mengambil keputusan dengan mengabaikan kebutuhan jemaatNYa.

Diam itu..  membiarkan semua terjadi padahal IA punya kuasa bukan hanya untuk mencegah tetapi lebih dari itu, kuasa untuk merubah keputusan itu… tapi DIA diam…
Dalam marah hadir sebuah pertanyaan kenapa DIA sering DIAM….
Ada yang berpikir DIA tidak maha kuasa tetapi DIA maha baik…
Ada yang berpikir DIA ringkih… tetapi  peka terhadap pergumulan umatNya..

Bagi ku… DIA maha kuasa sehingga hanya DIA yang tau...
kapan DIA diam dan kapan DIA berbicara untuk menunjukan kuasanNYa…

Melalui DIAM_NYA…. Ku diperingatkan untuk bertanggungjawab dalam setiap keputusan…
Tak ada keputusan yang tak beresiko… 
DIAM_NYA membiarkan kita siap untuk  menuai apa yang kita tabur…            



Rabu, 15 September 2010

PENGAMPUNAN… sebuah proses berulang tidak mengenal titik berhenti…


Di emper perpustakaan saya dan beberapa teman berdiskusi tentang pengampunan….
Seorang teman berbagi pengalaman mengenai seseorang  yang selalu menlukai hatinya….  Seolah tidak menghargai pemberian maaf yang selalu diberikan….
sebuah pertanyaan membuat kami sejanak diam dan berpikir…..  “sampai kapan pengampunan ini harus saya berikan bagi dia… sudah bertahun-tahun ia tidak mengubah sikap dan tingkah lakunya….” 

Sebuah kesimpulan kami ambil dari diskusi ini…. Pengampunan itu proses berulang… tidak hanya sekali jadi… sebab perubahan dalam diri manusia terjadi, juga dalam proses….  Tidak hanya sekali jadi…

Kesimpulan kecil mengenai pengampunan ini….. membuat kami mengerti dengan baik makna  Matius 18:22, ketika  Yesus berkata  “…Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali…”.  Tujuh puluh kali tujuh kali.. menunjukan sebuah proses berulang…. Pengampunan adalah proses berulang tidak berhenti pada satu titik…

Pengampunan Allah  yang kita terima adalah pengampunan yang selalu berulang….
Setiap kita melakukan dosa pengampunan dari Allah berulang diberikan kepada kita..
Dan didasarkan pada pengampunan ALLAH yang telah nyata dalam Yesus  inilah,  kita menjalani pengampunan dengan sesama….

Pengampunan yang berulang ini memang tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin… Roh Kudus akan memampukan kita menjalani pengampunan sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali…  pengampunan sebagai proses berulang…. 

di tempat yang sama..... di emper perpustakaan... namun dihari yg berbeda...
seorang teman berbagi cerita mengenai perjuangan ia dan keluarganya menghadapi perselingkuhan ayahnya.... sang ibu mengajarkan agar jangan pernah membalas ayahnya dengan tindakan kasar...
mereka sekeluarga terus-menerus mengampuni sang ayah dengan jalan selalu mendoakannya...
satu keyakinan bahwa perubahan itu proses.. bukan sekali jadi....  keyakinan dan doa itu...
akhirnya mengantarkan sang ayah untuk menyadari kesalahannya.... 
pengampunan sebagai proses berulang tanpa titik akhir...

Jumat, 30 Juli 2010

Refleksi Kebahagiaan... satu cerita dari liburan...

Jakarta… Panas…. Ramai…. Berisik….
Dalam keadaan inilah berjuta-juta orang menjalani kehidupannya sehari-hari…
Di tengah situasi seperti ini sebagian besar menjalani pekerjaannya hanya sebatas usaha untuk mempertahankan hidup… tuntutan hidup yang mahal…… seringkali semakin mahal dengan gengsi yang harus dipertahankan…..
Kekuatan fisik yang ekstra….. menghadapi polusi dan macet…
Kekuatan mental yang ekstra…. untuk mampu hidup dengan irama yang cepat dalam tekanan taret yang harus dicapai….

Salut bagi mereka yang menjalani hidup seperti ini…. ketika kebahagiaan dipertanyakan kepada mereka… maka kita akan menemukan jawaban yang melihat makna kebahagiaan adalah ketika mereka dapat mengalahkan situasi yang ada dengan menjalaninya penuh sukacita….

            Apakah kebahagiaan hanya milik mereka di kota besar…?

Oeklani… sejuk….bahkan cenderung dingin… sepi… tenang…. Kehidupan terasa pelan sejalan dengan alunan angin alam….
Dalam keadaan inilah ratusan orang menjalani hidup…
Kehidupannya yang berjalan selaras dengan alam….
Pekerjaan yang mereka lakukan disesuaikan dengan situasi alam… berkebun berternak…. panen… 

Salut dengan mereka yang mengelola alam sesuai kebutuhan…. kebutuhan mereka menjadi bagian integral dari keselarasan rantai makanan…
Sebagian besar kebutuhan diambil dari alam sehingga tidak mengenal gengsi…. yang mereka kenal ada berbagi dalam kesederhanaan hidup…. 

Kekuatan fisik yang ekstra….. dibutuhkan untuk menghadapi alam…
Kekuatan mental yang ekstra…. dibutuhkan untuk mampu hidup antara budaya dan perubahan jaman….
Bila kebahagiaan ditanyakan kepada mereka…. Maka akan ditemukan makna kebahagiaan bagi mereka adalah ketika mereka mampu hidup selaras dengan alam dan menjalaninya dengan suka cita….

              Kebahagiaan juga menjadi bagian dari kehidupan di desa....

Sebuah nilai hidup ku temukan… Kebahagiaan tidak ditentukan oleh tempat dan harta… tetapi terletak pada kesediaan untuk hidup berdamai dengan situasi yang ada dan menjalaninya dengan sukacita…..

Kamis, 27 Mei 2010

Yesus dalam gambaran seorang istri yang sederhana...


Waktu yang paling dirindukan adalah waktu dimana dapat berbagi cerita dengan mama…
Pagi ini, salah satu cerita yang paling ku sukai adalah cerita tentang salah seorang tetangga kami, ketika papa masih bertugas di Jemaat Imanuel- Oepura, salah satu jemaat dari GMIT.
          Sebut saja nama ibu ini adalah “ma ci”…. Itu sapaan yang biasa kami berikan kepadanya… seperti sebagian besar jemaat GMIT, mereka hidup dalam kesederhanaan… rumah sederhana tetapi selalu bersih dan rapi…. Di tata dengan bunga-bunga yang ditanam sendiri…. dalam pot-pot bunga sederhana buatan tangan sendiri… dengan menggunakan bahan daur ulang dari kaleng-kaleng cat… rumah itu selalu memberikan gambaran kesederhanaan… kesegaran dan kekeluargaan…. Rasa nyaman selalu dirasakan ketika bermain di tempat itu…
          Gambaran rumah ini… jauh berbeda dari gambaran pergumulan hidup yang dijalani ma ci…. Ia seorang single parent yang ditinggal pergi oleh suaminya… enam orang anak harus dibesarkan oleh dirinya yang tidak memiliki pekerjaan dan keahlian tetap…
          Tertatih… tatih…. setiap hari ia membesarkan dan menjaga serta menyekolahkan anaknya… dilakukan dengan rasa syukur dan iman bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dia… harapan selalu ada, bahwa Tuhan selalu ada dalam setiap tangisan dan tawanya….
          Setelah puluhan tahun ia membesarkan anak-anaknya, hingga hampir seluruh anak-anaknya telah menikah… sang bapak yang telah lama pergi meninggalkan dirinya dan pergumulan hidupnya… akhirnya kembali…  namun cerita tidak berakhir disini…. Suaminya kembali tidak lagi dalam keadaan normal…  kembali karena telah terserang struk… kaki dan mulutnya tidak dapat berfungsi dengan normal lagi…
          Sama seperti ketabahan dan kegigihan menjalani hidupnya sendiri… ma ci menerima dan merawat suaminya…. Apa adanya…. Tulus… tidak sungkan-sungkan ia berjuang sekuat tenaga merawat, mengobati dan melayani suaminya… hingga sekarang.. perlahan demi perlahan suaminya dapat berjalan dan berbicara lagi…. Ia teguh bergumul… tanpa sadar ia telah mendefinisikan apa  itu kasih ya.. melupakan… memaafkan… mengampuni… melayani tanpa pamrih...

Banyak buku…. Banyak teolog… yang mencoba mendefinisakan apa itu kasih… namun ku menemukan siapa itu Yesus dan kasihNYA… dalam gambaran kesederhanaan hidup yang diajarkan oleh ma ci…. Ia bukan pendeta.. bukan misionaris.... bukan orang yang mempunyai karunia khusus… ia hanya seorang perempuan sederhana  yang menampakan siapa itu Yesus yang sebenarnya…

Minggu, 16 Mei 2010

Aku akan sia-sia tanpa sesamaku...

Semua orang punya rasa takut...
Ketakutanku yang terbesar pada titik ini..
Adalah... bila hidup menjadi sia-sia...
Tak bermakna bagi sesama...

Untuk apa ku bertemu banyak orang hari ini... bila menyapapun, ku enggan...
Untuk apa ku mengelilingi kehidupanku dengan banyak teman... bila tak bermakna bagi mereka...
Untuk apa ku membaca banyak buku, hanya untuk membuat ku pintar tanpa mampu membuat orang lain, juga menjadi pintar...
Untuk apa ku kejar ilmu... bila hanya untuk mempercantik diri...

sia-sia bertemu orang.. 
bila hanya mampu menyapa orang yang memberi keuntungan bagi ku...
sia-sia berteman....
bila hanya ingin menemukan apa yang menjadi kekurangannya, sehingga diriku menjadi lebih
sia-sia membaca banyak buku...
bila tak mampu mengimplikasikannya bagi sesama...
Tak ingin menjadi pintar...
bila dengan itu dengan itu, ku hanya mampu menertawakan kebodohan orang lain bahkan menggunakannya untuk keuntungan diri sendiri....

Aku hanya dapat bermakna bila bersama Engkau, Dia dan Mereka....
Sebab bersama Engkau... Dia.. dan Mereka...
Ku mengetahui siapa diriku... dan makna kehadiranku....
Dalam persekutuan..... kebersamaan... hidup ini menemukan makna.... 
Tidak menjadi sia-sia...

Karena itulah...
Ku meminta sebuah hidup yang sederhana...
Sebab dalam kesederhanaan terletak kerelaan untuk berbagi....
Jauh.. dari ketamakan untuk mengumpulkan bagi diri sendiri...

Kesederhanaan hidup... yang dilandasi keinginan untuk berbagi adalah harta yang tak terbeli... 
ya.. kerena Aku.. tak bisa hidup dan bermakna tanpa sesamaku....

Tolong aku Tuhan... tuntun tanganku... jangan sia-sia karya hidupku...

Jumat, 30 April 2010

Ada apa dengan otak dan hati ini....?


Entah kenapa belakangan ini..... ku susah untuk berkonsentrasi....
mencoba mencari tempat yang paling nyaman tapi tak pernah kutemukan...
satu-satunya tempat yang membuatku nyaman hanyalah perpus kampus...
banyak buku tersedia disitu... sayangnya seringkali tempat itu cukup ramai didatangi orang....
Seringkali ku habiskan waktu seharian di tempat itu....
Ku seolah menemukan “rumah” ku sendiri di situ...

Segala sesuatu yang membuat tergantung selalu dihindari....
Tergantung pada seseorang... kosmetik... makanan dan pola hidup  ketergantungan lainnya
sebisa mungkin dihindari...
Tidak ingin hidup ini “dijajah” oleh sesuatu...
Tapi kenapa masalah kerja tugas... ku seolah tergantung pada ruang perpus...?
 Mencoba bertanya pada diri sendiri... apa yang salah dengan diri ini....?

Sejenak berpikir....
Bukankah seseorang dapat ramai di tengah kesunyian.... dan dapat sunyi di tengah keramaian...
Fakta ini menghadirkan tanda tanya sendiri.... 
bukankah ini berarti hati dan pikiran memainkan peran yang cukup dominan dalam menentukan kenyamanan hidup ini...
Banyak orang yang bisa hidup nyaman di tengah bau abis ikan...
Banyak orang merasa aman di tengah bau sampah....

Ada apa dengan otak dan hati ini....?
Mungkin ku tak lagi memberikan waktu yang cukup bagi mereka....
Ku seolah tak punya waktu untuk berhamonisasi dengan otak dan hati ini... 
ku butuhkan kesunyian untuk mengharmonisasikan keduanya... 
Dalam harmonisasi ini, dengan rendah hati meminta mereka untuk menyatukan visi....
Baiklah....

Selasa, 06 April 2010

filosofi sampan kecil....


Sampan….
melambangkan kesederhanaan… harta bagi para nelayan sederhana.... mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan….. ya secukupnya… untuk makan keluarga dan dijual demi kebutuhan keluarga…. 
mengambil hasil alam tanpa merusak alam… 
menjadi bagian penting dari harmonisasi keseimbangan rantai makanan…

Satu lagi yang penting… sampan kecil ini…. 
membutuhkan keseimbangan antara sisi kiri dan kanan untuk dapat berlayar mengarungi lautan….
Dalam keseimbangan ia mampu bermakna…

Kita tidak membutuhkan kemewahan untuk memampukan hidup ini menjadi bermakna…. 
Dalam kesederhanaan…. Kita akan mampu berarti bagi sesama… ya ketika kita bersedia menjalani hidup ini dengan dalam keseimbangan….
Seimbang dalam menjaga hubungan yang baik dengan DIA dan membutkikan itu kepada sesama…
Seimbang antara menerima dan memberi….
Seimbang antara berdoa dan bekerja….
Seimbang antara bekerja dan beristirahat….
Seimbang antara menghias diri dan bermakna bagi orang lain…

Kebahagiaan tidak identik dengan kekayaan dan kemewahan…. 
Sebab dalam sederhanaan dan kerelaan untuk menjalani hidup dengan seimbang kita dapat menikmati kebahagiaan hidup…. Karena hidup ini menjadi bermakna….

Sampan….. dalam kesederhanaannya mampu berlayar…. Karena ia seimbang….

Selasa, 30 Maret 2010

Meminum hingga tetes terakhir.... cawan penderitaan…..


Dengan bangga ku berkata Bapa… aku ini anak MU…
Dengan bahagia ku berkata… Bapa tuntun aku menjalani hidup ini…
Dengan hati yang terbuka ku berkata.. Bapa berkuasalah dalam hidup ini…


Tapi….
Semuanya berubah.. ketika ada “cawan penderitaan”  di hadapan ku….
Ku marah…. Ku berteriak… jauuuuuuhkan dari hadapan ku….!!!
Ku tak kuaaaaaaaaaaaat………… !!!
Itu  terlalu pahit bagi ku….. !!!
Cawan itu.. membuat ku mejalani hari tidak hanya dengan keluhan tapi juga dengan air mata…..

Sanyup…. terdengar….
Ku telah merasakan pahitnya cawan itu…
Ku pernah juga menjalani penderitaan itu…
Ku pernah merasakan apa yang engkau rasakan….
Ku lakukan itu demi dirimu… tapi kenapa kau tak mau melakukan itu untuk sesama mu….?

Yang AKU butuhkan dari mu hanyalah kesediaan untuk berkata “Biarlah kehendak Bapa yang terjadi dalam hidup ini….. ”  dan AKU akan memampukan mu melewati semua penderitaan itu… meminum cawan penderitaan hingga tetes terakhir…..





Rabu, 24 Maret 2010

zzZZZ.....Antara tidur dan tertidur….ZZZzz....


Tidur….
Semua manusia butuh tidur.. tidur dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Fisik dan emosi kita butuh istirahat dan juga waktu untuk mengatur dirinya. Kita perlu merawat dan mengurus serta menjaga diri sendiri…

Tapi… ketiduran….. mempunyai bahaya sendiri…
Kita dapat telat dalam menepati sebuah janji…
Pekerjaan dan tugas dapat terbengkalai…
Bukan tidak mungkin orang lain akan dirugikan..

Kita harus tau kapan kita tidur… kapan kita harus bangun dan terjaga…. sebab ketiduran dapat mendatangkan bahaya tersendiri…

Seperti para murid yang justru ketiduran tepat disaat Yesus sangat membutuhkan mereka.. para penulis injil sinoptis mempunyai cara masing-masing dalam menggambarkan keberadaan Yesus.
  • Matius dan Markus, menuliskan bahwa Yesus merasa sedih dan gentar bahkan dikatakan seperti mau   mati  rasanya. Ketika diselimuti rasa seperti inilah Yesus meminta muridnya untuk berjaga-jaga dan juga berdoa bersama Dia. 
  • Lukas, memberi penekanan yang lebih dalam dengan mengatakan bahwa pergumulan yang dihadapi Yesus    di Getsemani, sangat berat hingga peluhNya berubah menjadi darah…
Sebuah pergumulan yang sangat berat…. Saat Ia melepaskan kehendak hatiNya dan membiarkan kehendak Bapa yang terjadi…. Saat Ia meminum cawan hingga tetes terakhir… sekalipun itu adalah tetes-tetes yang paling pahit…. penderitaan…
Di saat yang berat… Ia harus meminum cawan yang terpahit….. pada murid, orang yang selalu bersama-sama dengan DIA, justru tertidur…

Kalau seandainya kita diberikan kesempatan untuk bertemu para murid.. tentunya kita akan sangat marah terhadap sikap para murid yang membiarkan Yesus menghadapi waktu yang berat ini......... boleh saja marah… tapi mari lihat kembali kehidupan kita…
Sudahkah kita terjaga bersama-sama dengan sesama kita yang sedang bergumul dengan masalah mereka…..?
Mereka yang mungkin tertawa ketika banyak orang tetapi sebenarnya menangis ketika sedang sendiri…
Mereka yang terlihat kuat dihadapan kita tetapi sebenarnya hancur dibelakang kita…
Perhatikan setiap orang yang Tuhan anugrahkan di sekitar kita… jangan sampai kita “tertidur”… sekalipun mata kita sedang melihat dengan jelas pergumulan mereka….

Kita memang butuh “tidur” (merawat diri kita)… tetapi jangan sampai “ketiduran” (melupakan orang lain)…. Terlebih lagi di saat sesame kita sangat membutuhkan kita… untuk bersama-sama terjaga menghadapi permulan hidup mereka….

Kita bukan hanya hidup… tapi bagaimana kita mampu bermakna bagi sesama…
Tidak hanya melalui kesediaan menangis bersama mereka yang menangis.. tertawa dengan mereka yang tertawa…
Tapi juga… memperingatkan yang tertawa bahwa ada tangisan… dan menguatkan yang menangis bahwa masih selalu ada tawa…


*tulisan ini di inspirasi oleh tulisan Hendrik Nouwen….
Tapi lupa judul bukunya….

Minggu, 14 Maret 2010

ketika ku di hadapan Mu...


Di hadapan Mu…
Kegentaranku pergi… hingga datanglah kekuatan….
Keangkuhanku hancur…. hingga tersadar untuk bergantung pada Mu…
Kelelahanku luluh…. berganti kekuatan….
Keraguan akan masa depan… berubah menjadi kepastian di masa kini….
Semuanya… membuatku tidak mampu menetapMu dengan mata yang kosong… selalu ada air mata…. mengagumi semua perbuatanMu… 
Ya… Kau memang tidak menyertaiku dengan berlari… tapi menyertaiku tapak demi tapak… sehingga ku merasakan setiaMu dalam setiap tapak demi tapak….
Hidup terlalu indah untuk dijalani dengan keluhan.. sebab setiap tapak adalah anugrah…

Minggu, 07 Maret 2010

Filosofi cecak, pelan tapi pasti…

Cecak..cecak.. di dinding diam-diam merayap…. datang seekor nyamuk… hap… lalu ditangkap…..
Siapa sih yang tak kenal lagu ini…. jadoel abis……

Dalam perjalanan pulang dari gereja semalam… di atas anggkot, ku coba memahami lagu ini…. dan menemukan bahwa lagu ini sebenarnya menceritakan kehebatan sang cecak…

Cecak… adalah seekor binatang yang merayap di dinding…. ia tidak bisa terbang…
Tapi kenapa justru makanan utamanya adalah nyamuk… si kecil dan lincah terbang kemana-mana….. 

Sang cecak yang tak bisa terbang… harus mencari taktik agar mampu mendapatkan nyamuk yang lincah terbang… sehingga ia tidak mati kelaparan…. Ya… dengan diam-diam ia merayap… ini taktik sang cecak….
Keterbatasan sang cecak yang tidak bisa terbang, tidak serta merta berarti bahwa ia tidak bisa menanggkap nyamuk yang bisa terbang….

Sambil senyum… senyum… di atas angkot… ku mengerti sekarang filosofi cecak dan ingin belajar dari dirinya… mungkin ku tak punya kelebihan seperti orang lain…. tapi kekuarangan yang ada tidak serta merta membatasi diri ini….. 

ku dianugrahkan kemampuan berpikir dan kekuatan dari Sang Bapa… agar dari apa yang ada pada diriku, mampu melakukan yang terbaik bagi DIA…. Ya…. Jangan takut dibilang "pelan" sebab itu dapat berarti… diam.. diam merayap.. pelan tapi pasti….

Rabu, 03 Maret 2010

... ada yg berbeda dgn kerobohannya.....


Ketika tiba di kampus tadi pagi.. sangat kelihatan kalau ada yang berbeda dengan keadaan di tengah kampus…. Hari senin yang lalu, pohon mangga besar di tengah kampus roboh karena hantaman hujan yang disertai angin lebat… syukur kepada Bapa karena tidak jatuh korban ketika itu…..


Setelah menjalani proses pertumbuhan selama bertahun-tahun… pohon itu roboh dalam beberapa detik…. 

Kesejukan…. Keteduhan…. Suasana hijau…  yang diberikan oleh pohon mangga itu sudah tidak ada lagi….
Hampir setiap hari ku menikmati keteduhannya….
Hampir tiap hari mata ini disegarkan oleh hijaunya… 
Hampir tiap hari kesejukan kurasakan darinya….
Sayangnya… ku menyadari ini ketika ia telah roboh…  ya.. terlambat…

Kini….  sisi tengah kampus semakin terang…. tapi… sebagian kelas terkena sinar  matahari secara langsung, yang membuat udara di dalamnya semakin panas…..
Udara pun tidak sesejuk ketika pohon itu masih berdiri….
Kerobohannya menghadirkan suasana yang berbeda….
Yang pasti membutuhkan bertahun-tahun lagi untuk mengembalikan suasana itu….

Terkadang …. perjalanan hidup kita seperti ini….
Bertahun-tahun kita membangun percintaan….. persahabatan…. pertemanan… lalu datanglah “badai….”  Yang walaupun hanya  beberapa detik tapi mampu merobohkan semuanya….
Sayangnya.. disaat semua sudah berakhir…. Jutstru pada saat itulah kita tersadar… akan betapa indah, teduh dan sejuknya… cinta…. persahabatan… pertemanan yang telah hancur…..
Satu yang pasti… butuh bertahun-tahun lagi untuk membuat semuanya kembali seperti dulu……

Jagalah… dengan baik  semua yang kita sayangi… cintailah dengan setia… jangan sampai kita merasa memiliki justru ketika kita telah kehilangan….

Selasa, 02 Maret 2010


Satu keanehan yang belum terjawab selama ini.. adalah kenapa DIA seolah menunjukan semua hal buruk itu kepadaku…? seolah terbuka lebar, terang tak kabur sedikitpun… seperti dokondisikan semuanya…. mengharuskan ku merasa taknyaman menjalani semuanya…

Jujur…. Ada kegentaran.. ada ketakutan… karena semua itu, tentunya akan merobek zona nyaman dalam hidupku… terkadang tuntunanNYA membawa kita ke tempat yang tidak kita ketahui…. Tapi kesetiaanNYA akan menguatkan kita menuju akhir perjalanan ini.. satu yang pasti.. malu bertanya sesat di jalan….

Sabtu, 27 Februari 2010

Antara putar balik dan putar balek.

Yehezkiel 3: 16-21.

Putar balik dan putar balek adalah dua kata yang mirip. Bila kita lihat huruf demi huruf, maka dapat dipastikan bahwa perbedaan kedua kalimat ini hanya terletak pada satu huruf. Kata putar balek menggunakan huruf “e” sementara kata putar balik, menggunakan huruf “i”. Sekalipun kedua kata ini mirip, dan hanya berbeda pada satu huruf…. Kedua kata ini memiliki makna atau arti yang jauh berbeda.
-    Putar balik berarti, berputar kembali... ke tempat  yang sebenarnya.
-   Sementara purat balek.. justru berarti melenceng dari apa yang sebenarnya… tidak sesuai atau berlawanan dengan sebenarnya. (kata ini merupakan salah satu bahasa kupang yang sering digunakan untuk mengatakan sebuah fakta yang diputarbalikkan.)

Dapat dipastikan semua orang tidak ingin ditipu. Yang benar hendaknya dikatakan benar dan yang salah hendaknya dikatakan salah. Dalam rangka menyatakan kebenaran inilah, Allah memanggil Yeheskiel untuk menjadi seorang nabi. Seorang yang bertugas untuk memberitakan berita yang Ia terima dari Allah. Yeheskiel di panggil untuk menyatakan kebenaran yang disampaikan Allah kepada Israel.

Pesan yang keluar dari mulut Yeheskiel, diberitahukan kepada bangsa Israel yang ada dalam pembuangan, harus kembali sesuai dengan perkataan Allah yang ia terima.  Yeheskiel dipanggil mejadi seorang yang selalu mengembalikan setiap kata yang diucapkan, kembali kepada kebenaran berita Allah.

Kesatuan antara perkataan Yeheskiel dan pesan yang Ia terima dari Allah menjadi penting sebab Yeheskiel dipanggil oleh Allah untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang di pembuangan dengan mengatasnamakan nama Allah. Ayat.17. Semua yang Ia beritakan harus kembali sesuai dengan apa yang ia dengarkan dari Allah sendiri.  

Sadar atau tidak sadar… suka atau tidak suka…
Kita semua sama seperti Yehezkiel…. Dipanggil untuk menyatakan pesan Allah dalam hidup kita… kepada sesama….

Pertanyaan besar bagi kita…  pesan apa yang kita berikan kepada sesama….?
Apakah kita akan menjadi sama seperti Yeheskiel yang membawa pesan sesuai dengan kebenaran Allah. Kita memutar balik setiap kata kita dengan mengukurnya sesuai pada kebenaran Allah ?
ataukah…..
kita justru menjadi pembawa pesan yang putar balek.

Keputusan…  untuk menjadi seorang yang memutar balik (mengembalikan) setiap kata kita menjadi sesuai kebenaran Allah ataukah menjadi seorang yang putar balek (membalikan kebenaran), memberitakan pesan yang tidak sesuai dengan pesan Allah.. ada di tangan kita…

Jangan gegabah ketika  berbicara  mengatasnamakan ALLAH…  sebab kebenaranNyalah yang harus kita beritakan… bukan kebenaran, kepentingan atau keuntungan kita dengan mengatasnamakan Allah…. Waspadalah !!!!!! sebab sekalipun putar balik dan putar balek… hanya berbeda, satu huruf… tapi memiliki makna yang bertentangan…


Minggu, 21 Februari 2010

Persahabatan bagai Kedondong....

Ketika jenuh berhadapan dengan tugas-tugas yang tak pernah selesai… saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan menyegarkan pikiran ini dengan membuat sebuah tulisan lepas. Kebetulan ada seorang teman yang meminta menuliskan baginya sebuah cerita tentang persahabatan. Lebih tepatnya tentang dua sahabat lama… hm.. ternyata cukup susah…

Saat mencoba menyusun alur berpikir tulisan ini, tiba-tiba terdengar lagu, dengan lirik… “persahabatan bagai kepompong….. merubah ulat menjadi kupu-kupu….”. Seperti biasanya, saya selalu merubah lagu ini menjadi “persahabatan bagai ke dondong…..” hm.. bukan maksud hati menjelekkan lagu tersebut, tapi hanya ingin tersenyum ketika menyanyikan ubahan lagu tersebut…

Kedondong….. adalah salah satu jenis buah-buahan yang memiliki bentuk yang indah bila dilihat dari luar. Sedangkan isi dalam dari kedondong sendiri, terdiri dari dua bagian, daging buah dan serat… siapa yang memakan buah ini, harus mampu memisahkan daging dan seratnya….

Bukankah persahabatan seperti buah kedondong…?
Sangat indah ketika kita melihat dua orang atau beberapa orang hidup dengan saling bersahabat. Tidak sering banyak sekali symbol yang dibuat untuk mempererat persahabatan yang ada. Menggunakan gelang yang sama, baju dipesan bersama, janjian makan bersama… dan banyak lagi kegiatan lainnya. Sering kegiatan ini membuat orang yang ada disekitar melihat dengan tatapan iri…

Namun, mari melihat lebih cermat isi dari persahabatan tersebut…..
Hm.. ternyata tidak hanya ada “daging” yang baik untuk dimakan tetapi juga terdapat “serat” yang tidak menyenangkan.
  • Dalam persahabatan… tidak kita menemukan tempat untuk berbagi cerita tetapi juga tempat kita harus meluangkan waktu kita untuk mendengarkan cerita sekalipun, mungkin cerita itu tak penting bagi kita…..
  • Dalam persahabatan…. Tidak hanya menemukan tempat dimana kita diterima apa adanya tetapi juga kita harus menerima teman kita apa adanya. Sering kita kesal kepada sahabat karena perbuatannya tapi bukankah kita harus menerinya apa adanya…
  • Dengan persahabatan, kita tidak akan merasa sendiri dalam menjalani hidup ini. Ada orang yang bersama-sama berbagi tangisan dan tawa dengan kita. Namun harus kita akui bahwa seringkali kita kesal karena merasa bahwa sang sahabat terlalu mencampuri urusan pribadi… seolah kita tak punya waktu untuk diri sendiri…
  • Dalam persahabatan... kita akan menjadi orang yang berbangga ketika sahabat kita meraih prestasi.. tapi kita juga akan merasakan malu bila sang sahabat melakukan kesalahan....
  • Seorang sahabat adalah orang paling mengetahui kelebihan dan keinginan kita.. tetapi juga kelemahan dan kebencian kita… sahabat dapat membuat kita menjadi seorang yang paling berbahagia.. tapi dia juga dapat berubah menjadi orang yang paling kita benci.

Persahabatan itu utuh… seperti buah kedongdong… ada daging tapi juga ada serat… ada kebagiaan tetapi ada juga yang tidak menyenangkan…. tergantung bagaimana kita menyikapinya...

Bukankah keutuhan persahabtan juga yang diajarkan oleh amsal 17:17…. Ya… seorang sahabat menaruh kasih setiap saat… tidak hanya saat suka tetapi juga dalam kesukaran…

Belajar dari tungku api & Daniel 1: 1-21.

Perkembangan zaman dapat dilihat dari berkembangnya perabotan dapur salah satunya terlihat jelas dari perubahan yang terjadi dari Tungku Api, Komfor Minyak dan Komfor Gas. Kehadiran Tungku api semakin tergusur, dan terpinggirkan dengan hadirnya komfor minyak tanah dan komfor gas. Ribet, kotor bahkan kampungan menjadi alasan yang dilebelkan pada tungku api. Penggunaan tunggku api tidak lagi sepopuler dulu pada jamannya.

Memang, harus diakui, perkembangan zaman mendahulukan kecepatan dari kelambatan, memilih sesuatu yang simple dari pada yang ribet. Tapi dalam catatakan kehidupan kita, tidak dapat dipungkiri bahwa makanan yang dimasak dengan tungku api dapat memberikan AROMA makanan yang jauh lebih khas. Tungku api dapat memberikan RASA yang unik pada makanan. Dalam keterdesakannya tunggku api mengajarkan kita bahwa semua yang kuno belum tentu lebih buruk, ada hal-hal yang tidak mampu digantikan oleh peralatan yang lebih populer. Semua punya kelemahan dan kelebihan.

Bukan sebuah kesalahan bila cara hidup kita, disesuaikan dengan zaman yang berubah ini. Bahkan sebuah keharusan bagi kita untuk menyesuaikan cara hidup kita dengan perubahan zaman. Yang menjadi masalah adalah ketika kita hendak menghalalkan segala cara, sehingga dengan mudah kita mencapai apa yang kita inginkan. Atas nama perkembangan dunia dan tuntutan zaman, orang seringkali lebih memilih “jalan pintas“. Hal ini adalah salah satu pesan yang dapat kita ambil dari cerita Daniel 1: 1-21.

Ketika raja Nebukadnezar, memerintahkan agar mengumpulkan beberapa para pemuda Israel untuk mendapatkan pendidikan menganai bahasa dan tulisan Kasdim, Daniel, Hananya, Misael dan Azarya masuk dalam daftar pemuda yang dikumpulkan. Raja menjamu mereka dengan makanan dan minuman yang sama dengan apa yang dimakan dan diminum oleh raja. Namun sekalipun keadaan memungkinkan mereka untuk merasakan apa yang dirasa “populer“ pada masa itu, Daniel dan teman-temannya memilih untuk tidak menajiskan diri mereka (ay.8). Tentunya pilihan Daniel dan teman-teman adalah sebuah pilihan yang tidak populer bagi lingkungan hidup mereka saat itu.

Merasakan apalagi bisa menyantap makanan raja yang merupakan makanan terbaik, tentunya merupakan kerinduan dari setiap rakyat. Makanan dan minuman santapan raja tentunya merupakan santapan terbaik. Apalagi bila makanan dan minuman tersebut diberikan untuk mendukung otak dan tubuh mereka selama masa pendidikan sehingga dapat menjadi yang terbaik. Namun bagi Daniel dan teman-teman, apalah gunanya meraih keberhasilan bila cara yang ditempuh membuat diri mereka menjadi najis. Kesetiaan kepada Allah adalah jauh lebih panting sebab Allahlah sumber pengetahuan yang membuat mereka berhasil bahkan menjadi yang terbaik.

Di tengah perkembangan jaman yang semakin moderen ini banyak “Jalan Pintas“ yang ditawarkan. Takut dan setia kepada Allah seolah menjadi sebuah hal “kuno“ yang tidak lagi populer. Kalau bisa sogok, untuk apa berusaha. Kalau bisa bayar, untuk apa belajar. Kalau bisa korupsi, untuk apa berlama-lama kerja hanya untuk kaya. Kalau bisa sukses lebih cepat, untuk apa takut Tuhan.

Dalam berusaha mencapai cita-cita kita, entah di dunia pendidikan, pekerjaan di kantor, maupun dalam dunia usaha lain, tentunya tidak lepas dari tantangan dan kesulitan tetapi juga kesuksesan. Masa-masa perjuangan inilah, seringkali kita ditawarkan dengan berbagai “jalan pintas“ yang terlihat seperti sesuatu yang populer dan sesuai dengan tuntutan jaman. Pada saat inilah kita dapat belajar dari Daniel dan kawan-kawan, bahwa sumber kehidupan kita adalah Allah.

Jangan takut melawan arus. Jangan takut dibilang kuno. Belajarlah dari tungku api, sekalipun tidak lagi populer tetapi aroma dan rasa yang dihasilkan olehnya, tidak tergantikan. Dengan mempertahankan ketaatan kita kepada Allah dalam kehidupan ini, kita akan tetap merasakan, “AROMA“ dan “RASA“ kehidupan yang tidak dapat diberikan oleh semua “Jalan Pintas“.

Jumat, 19 Februari 2010

CINTA & KOMITMEN, Berbeda tapi jangan dipisahkan...

Bila kita mendengar kata “setelah menjalin cinta denganmu, aku tidak bisa jatuh cinta kepada orang lain…” maka yakinlah bahwa kata-kata itu adalah rayuan yang diucapkan hanya untuk “menghias bibir”. Ketika kita telah menjalin cinta dengan seseorang, bukan tidak mungkin kita akan juga jatuh cinta atau setidaknya jatuh suka kepada orang lain… namun ini tidak berarti kita dapat menjalin cinta dengan orang lain. Cinta dan komitmen bagaikan dua sisi dari satu kepingan uang logam. Bisa dibedakan tapi tak dapat dipisahkan.

Kita tidak akan pernah bisa menentukan dengan siapa kita akan jatuh cinta… tetapi kita diberikan kebebasan untuk memilih dengan siapa kita akan membangun komitmen cinta. Komitmen itulah yang akan menolong kita, agar sekalipun kita “terbang dan berkelana” sebebas mungkin, namun pada akhirnya akan pulang kepada orang yang bersama dia, kita menjalin komitmen cinta. Komitmen cinta, adalah janji yang dijaga dan diperjuangkan tidak hanya dengan hati tetapi dengan seluruh perbuatan dimanapun dan kapanpun.


Kekuatan komitmen cinta inilah, kita kenal sebagai kesetiaan yang juga dituliskan oleh sang penulis kidung agung 8:6. Materai pada hati dan pada lengan menggambarkan bahwa cinta adalah rasa yang tidak hanya disimpan di hati tetapi juga dinyatakan dalam perbuatan. Betapa kuatnya kekuatan kesetiaan cinta, maka sang penulis bagian ini bahkan membandingkannya dengan dunia orang mati. Tidak hanya itu, air dan api tidak dapat meluluhkan komitmen cinta itu.


Tapi kenapa perselingkungan terjadi ?. Cerita perselingkuhan sudah seperti cerita yang wajar. Atas nama cinta yang lebih baik, kita seolah memiliki hak untuk mengabaikan komitmen kita sebelumnya. Namun percayalah kita tidak akan menemukan makna cinta yang sebenarnya, selama kita menjalin cinta dengan mengabaikan komitmen atau kesetiaan.


Selalu ada kemungkinan untuk mencintai orang lain, sekalipun kita telah berjanji setia kepada orang yang telah bersama kita, membangun komitmen cinta. Namun, biarkanlah komitmen, menjadi alasan untuk menolak menjalin cinta yang lain, sekalipun kita memiliki lebih banyak alasan untuk menerima cinta yang lain itu. Sebab cinta dan komitmen bagaikan dua sisi dari satu kepingan uang logam. Ya.. materai itu tidak hanya diletakan di hati tetapi juga pada lengan….. tidak hanya untuk dirasakan tetapi juga diperjuangkan…